Tuesday, November 10, 2009

Freelance

Huaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh.... Gila aja gw belakangan ini begadang mulu. Begadang yang membawa berkah mudah-mudahan, hehehehehehe. Jadi gw tuh kemaren nyoba bantuin temen gw, Jiwo Mahardika, untuk pitching sebuah proyek yang lumayan gede. Gw ngebantuin segala macem dah. Pokoknya gw kerja serabutan banget. Tapi, tanpa melakukan keahlian gw yaitu copywriting.

Ternyata enak juga ya yang namanya freelance. Pertama adalah gak ada yang ngatur. Terus gak ada ikatan di dalamnya. Gw mau kabur di tengah-tengah kerja juga gak apa-apa. Karena emang gak ada yang namanya kontrak hitam di atas putih. Pengalaman baru sih buat gw, karena emang sebelumnya gw cuma berkutat dengan kantor, kantor, dan kantor.

Hal pertama yang dilakukan bersama adalah brainstorming tentang produk yang akan dan segera ditenderkan. Mulai dari membedah brand, melakukan analisis tentang positioning produk, dan merencanakan treatment apa yang harus dilakukan untuk segera dieksekusi dengan materi konsep yang akan dipresentasikan. Bagusnya semua orang yang ada dan diajak teman gw.

Gw dan teman-teman berhasil menyelesaikan materi presentasi jam setengah 4 pagi. Akhirnya karena gw gak sanggup, gw nginep di kantornya Jiwo. Dan pada jam 9 pagi gw dan teman-teman yang sebenarnya baru 2 hari kenal itu berangkat ke bilangan Karet di dekat Sudirman untuk melakukan presentasi.

Presentasi pun berjalan baik dan gw berhasil memberikan pengertian ke pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya harus bisa dijawab oleh sebuah kreatif dan marketing konsultan. Gw dan anak-anak yang lain pun akhirnya pulang ke rumah, dan berhasil lega karena telah melakukan pitching atas sebuah tender produk yang lumayan unik, yaitu Rumah Sakit Bedah Plastik.

Gw ngerasa dapet sebuah tantangan baru aja ngikutin temen gw Jiwo ini. Padahal gw dan dia hanya baru kenal lewat milis orang-orang iklan yang sebelumnya gw dan dia belum pernah ketemu. Apalagi dengan anak-anak yang lain yang gw sebelumya belum pernah kenal. Awalnya emang hanya atas dasar kepercayaan yang gw kembangkan dalam ngikutin proyek ini. Dan, gw hanya memberikan yang terbaik yang gw punya dalam membantu teman gw ini. Selebihnya, gw hanya ingin agar diri gw terus dapat berkarya dan tidak tenggelam dalam kemandulan yang melanda gw sekarang.

Tantangan sangat berasa banget di saat gw ngelewatinnya. Dan yang gw senang adalah saat gw menjalaninya gw sangat merasa bisa mengembangkan diri. Diawali dengan sikap Jiwo yang selalu memberikan kesempatan kepada timnya untuk saling meng-cover satu sama lain ketika mendapat pertanyaan oleh klien. Ya sepengalaman gw terakhir, entah kenapa dari gwnya yang ngerasa gak bisa "bersuara" ketika gw masih berada di kantor gw yang baru aja gw tinggalin ini.

Yang pasti gw sangat bisa ngeluarin apa yang bisa gw kerjakan. Memberikan yang terbaik di dalam semua hal yang gw lakuin ngebuat gw semakin yakin kalau gw ini emang bisa berguna dengan orang lain. Kata Jiwo, "jangan pernah ngomong takut, gak bisa, atau sejuta kata penyanggahan yang lain, terhadap semua potensi yang loe punya. Di situ loe akan semakin ngerasa kalau diri loe itu sangat bernilai."

Gw heran juga sih kenapa gw diajak dalam proyek ini. Kata Jiwo kalau dia itu butuh seorang copywriter yang bisa ngasih kreatif rasional terhadap semua produk. Karena emang itu kemampuan yang dipunya seorang copywriter dalam keahliannya merangkai kata demi kata sesuai dengan yang dibutuhkan.

Sekarang gw ngerasa kalau gw itu harus bisa melihat semua kesempatan di depan. Kalau hasil diskusi gw dengan mas Do adalah kesempatan itu jangan ditunggu, tapi diciptakan. Ya gw setuju banget. Intinya sekarang yang gw lakukan adalah melakukan semua hal yang tentunya berguna dan positif buat gw. Bukan melakukan hal yang menegatifkan gw sendiri, seperti diam tanpa melakukan apa-apa.

Gw emang gak tau apakah kelanggengan gw ini bertahan lama ama temen-temen baru gw ini. Tapi, yang pasti di saat gw ngeliat ini sebagai sebuah peluang baru, gw akan ngejalanin semuanya dengan sepositif mungkin. Karena kalau gw cuma ngebantuin setengah-setengah, gwnya gak dapet apa-apa, dan yang gw bantu pun gak bakal dapet apa-apa. Cuma jadi buah simalakama jadinya.

Ragu. Itulah kata yang harus gw hilangkan dari kamus gw sekarang. Entah sih kamus apa yang gw pake, tapi gw tau kalau kata itu ada dan besar di gw, yang bisa gw lakukan adalah cuma berhenti dalam kebimbangan tanpa tak tau ingin melakukan apa ke depannya. Jadinya, gw harus terus berpikir maju ke depan. Semua pandangan positif atau negatif dari orang lain akan gw jadikan sebagai feedback untuk terus mengoreksi gw ke depannya.

Yaa, itulah gw. Manusia yang terus dan terus merangkak demi sebuah proses positif yang mendewasakan dan memberikan banyak pengalaman ke gw. Intinya gw akan menanamkan ke diri gw kalau gw akan terus menatap jauh ke depan dan meraih sejumput demi sejumput cita-cita yang akan gw cari. Dan ingat! Tanpa meninggalkan orang-orang di sekitar gw yang pasti akan ngebesarin gw secara sadar atau tanpa sadar.

Pitching udah, besok agendanya adalah MENCARI KERJA LAGI! Hahhahahaha, jangan bosen ya? Agenda terbesar yang lagi bernaung besar di dalam diri gw adalah itu sekarang. Jadi jangan salahkan gw dong ya. Sebagai newbie gw harus sadar kalau gw masih cetek banget pengelaman, apalagi jam terbang. Yang bisa gw lakukan adalah keinginan untuk menambah dan memperkaya itu dengan terus dan terus berkarya. Kalau kata nyokap gw, "apa aja jalanin, yang penting halal."

Oh iya, bokap gw hari ini berulang tahun yang ke 57. Dan dia sekarang sedang berada di Surabaya dalam misi perjalanan menuju Vietnam. Setelah gw sms ngucapin ulang tahun, bokap gw ngebales, begini isinya,

"Thanks Wan, do not hopeless if we've got any risk in our life. Keep in steady as she goes, ok?"

Wah babeh gw emang paling top dah kalau yang namanya ngajarin gw jadi laki-laki yang harus bisa terus belajar dalam situasi paling sulit sekalipun. Dia itu kiblat gw dalam melaki-lakikan diri gw. Mudah-mudahan gw bisa melebihi dia kelak, ataupun sejajar. Love you and miss you Dad!

Emang pelajaran hidup belakangan ini akan ngebikin gw tambah "besar." Gw harus sanggup ngejalanin semua realitas hidup gw ini yang datang ke gw dalam wujud yang sebenar-benarnya. Tak ada kepalsuan, tak ada kemunafikan, yang ada hanya gw dan diri gw yang begini adanya.

Kalau kata tembang lawas, "Semua terserah padamu, aku begini ADA BAND."

Cintai diri dan hidup yang aku jalani.
Semua hal memang tak akan pernah sama.
Walau kamu meninggalkan aku.
Atau aku meninggalkan kamu.

Tapi, aku tau kalau aku masih mencarimu.

Sunday, November 8, 2009

Masa Itu Kembali Lagi!

Ngomong-ngomong tentang hidup gw, yang pasti emang gw sekarang sedang ngejalanin fase baru dalam hidup gw. Menjadi seorang pengangguran lagi ternyata ngasih gw banyak makna yang harus bisa dirasa sebagai pendewasaan diri. Gw sekali lagi gak akan yang namanya melawan sebuah kata yang sangat sakral adanya, waktu.

Kata itu emang ngebuat gw semakin menyadari betapa lemahnya gw untuk melawan waktu. Mau badan gw segede apa juga yang pasti gw pasti gak akan bisa yang namanya melawan waktu.

Beberapa hari belakangan emang hari gw dihiasi dengan pencarian kerja. Mulai dari bangun pagi, membuka laptop, mencari kesempatan dan lowongan, mendaftar email-email yang bisa gw kirim lamaran, dan mengoptimalkan pencarian gw dengan seluruh tenaga dan jiwa raga yang gw punya, sedaaaaaaaap, hehehehehe. UPS! Pesan sponsor tuh kayanya.

Yang mungkin gw lakukan setiap hari sekarang adalah itu, mencari dan menciptakan peluang. Karena kesempatan itu harus selalu gw ciptakan. Kemaren gw sempet ditelepon sama dua orang yang pernah menjadi klien kantor gw dulu. Entah kenapa kok gw diberikan semangat oleh kedua bapak itu untuk dapat mencari kesempatan lebih jauh lagi. Mulai dari dimintanya CV gw yang mau diteruskan oleh salah satu dari bapak itu, sampai gw ditelepon dan diberikan semangat oleh mereka.

Entah kenapa ketika gw sedang dalam keadaan seperti ini, justru orang-orang di sekeliling gw menjadi semakin mendekat. Semua seperti merapatkan barisan untuk memberikan semangat ke gw. Entah gwnya yang geer apa gak, tapi emang gw ngerasa gitu. Semua seperti memberikan semangat ke gw.

Apakah di sini semakin jelas kenapa gw harusnya tidak pergi meninggalkan mereka? Gw di sini ngerasa banget bukan sebenarnya mereka yang pergi ketika gw masih "terbutakan" kemaren, tapi justru gwnyalah yang pergi sejauh-jauhnya dan membuat benteng sendiri atas "kebenaran" yang gw bikin sendiri.

Masalahnya benteng yang gw buat itu sangat tinggi adanya. Melebihi gedung-gedung pencakar langit. Dan, membentang membuat gw semakin tinggi dengan kebenaran yang gw anggap adalah TUHAN. Sebenarnya gw gak seharusnya begitu, karena sampai kapan pun orang-orang di sekitar gwlah yang membuat gw besar. Kalau gw mau diri gw menjadi besar, maka besarkanlah orang-orang di sekitar gw dulu. Baru lambat laun gw akan menjadi besar dengan sendirinya.

Kenapa gw tega ya ninggalin mereka semua kemaren? Kenapa gw begitu sablengnya ngerasa diri gw yang paling benar tanpa adanya keinginan untuk mendengar dan mencerna? Gw sangat ngerasa semakin kecil setiap hari dalam hidup gw sekarang. Dengan berusaha terus memperbaiki simpul-simpul yang kusut, silaturahmi yang terputus, ketertinggalan yang semakin menjauh dan semua hal yang menurut gw jadi hilang karena diri gw sendiri lakukan.

Gw akan mengumpulkan dan merapikan semua yang berserakan karena ulah gw kemaren. Dengan meniti dan menata semua perasaan gw yakin gw akan bisa merapikannya walau gak semuanya. Semuanya? Siapa tau bisa. Jangan pernah pesimis pokoknya kalau gw belom ngejalaninnya. Dan, jangan buat kesimpulan sendiri kalau gw belum atau masih takut ngejalaninnya. Takut? Itu bukan gw! Gw gak akan takut menghadapi semua realitas hidup di depan gw. Karena gw hidup untuk menghadapinya. Di situ ada masalah, di situ gw harus bisa menyelesaikannya.

Semua kejadian emang pasti membawa makna yang banyak. Gak hanya yang ngebikin gw ngerasa semakin dewasa, tapi juga semua yang ngebuat gw harus bisa mengoreksi diri. Semua kehilangan gw ini adalah sebuah proses penataan sebuah kejadian dalam hidup gw. Entah sesakit apa, semanis apa, tapi gw tau kalau proses ini Tuhan ciptakan untuk gw.

Sekarang menunduk emang jadi agenda tersendiri buat gw. Merunduk dan nunduk untuk tiba saatnya bangkit lagi di hari esok. Jangan pernah bertanya kenapa gw seoptimis ini, atau gw sepesimis ini karena hanya gw yang tau rasanya seperti apa. Tuhan memberikan gw napas untuk gw bisa menyelesaikan semua problema ini dengan cara yang gw pikirkan. Walau hanya dengan kedipan mata, tapi gw yakin bahwa semua masalah itu ada jalan keluarnya. Walaupun jalan keluarnya dengan masalah baru lagi.

Emang dah yang namanya hidup itu gak lepas dari masalah. Yang penting gimana gw untuk terus bijak ngadepinnya. Kalau gw terus ngerasa gak perlu masalah atau lari dari masalah, mendingan akika METONG aja. Jadinya gak bakal ada kan beban hidup yang harus dijalani kan?

Ngomong-ngomong, besok ngapain ya? Besok agenda gw adalah MENCARI KERJA lagi! Hahahahha. Gw jadi rindu fase gw ini. Di saat semua agenda gw jadi banci interview, mengirim lamaran, bahkan sampe nyusruk-nyusruknya gw dengan pasangan gw waktu setahun kemaren, gw akan mengulangnya kayanya. Soalnya ketika fase blog gw mencari kerja banyak yang bilang bagus. Cuma bedanya gw sekarang jomblo, jadinya cerita sekitar percintaan gak gw masupin deh kayaknya, hehehehhe.

Intinya mah doain gw ya. Pokoknya kepada seluruh pembaca setia blog gw yang gak bagus ini, gw mohon doa restu untuk dapat bertahan dalam fase yang dibilang enak ya memang enak, dibilang asik ya memang asik (kaya lirik salah satu lagu house music yang kerap diputar di angkot menjelang dini hari, hehehe). Pokoknya kalau gw keterima kerja lagi, gw janji akan terus memperkaya "rumah" gw yang buluk ini dengan pemikiran-pemikiran gak penting, tapi sayang untuk dilewatkan. Huehuehuehuehue.

Ikhwan Aryandi setahun yang lalu seperti kembali lagi. Jangan pernah berhenti untuk sayang ama gw ya! Gw akan terima dengan bentuk APA PUN!

Gw rindu masa itu.
Masa pencarian pekerjaan dan lika-liku dengan pasangan saat itu.
Di saat orang menganggap gw saat itu adalah gw yang sebenarnya.
Dan sekarang gw ada dan kembali di masa indah itu.
Masa gw mencari.
Walau tanpa pasangan.

Friday, November 6, 2009

Titik Balik

Titik balik sebenarnya hanya label.
Yang penting bagaimana menjadikannya refleksi ke dalam diri.
Membuat dan membikin semua kejadian selalu memberikan pelajaran.

Di situ aku kan merasa aku adalah Ikhwan Aryandi.

Gw hari ini semakin berasa nunduk banget. Entah kenapa yang udah gw lakuin dan laluin itu semuanya adalah kesalahan. Entah gw ngerasanya gimana, tapi gw sangat ngerasa kurang atas apa yang sudah gw jalanin. Gw sudah kehilangan semuanya.

Dari kemaren yang gw lakukan adalah mencoba "membagi" semua hal yang telah gw laluin. Hampir dari semua yang gw ceritain seperti "menyerang" gw dan menyatakan kalau gw yang salah. Tapi, apakah gw sesalah itu ya?

Gw ngerasa udah ngorbanin semua kebahagiaan yang sesungguhnya mendukung keberadaan gw sebagai pribadi yang masih belajar. Gw kehilangan kerja, gw kehilangan dia, gw kehilangan mereka, dan gw mencoba memahami segala hal yang tertutup ketika gw masih bertarung ke Pulo gadung. Gw seperti kehilangan semuanya. Gw seperti menutup mata kemaren. Gw gak seperti Ikhwan Aryandi yang gw harapkan.

Semua masukan dari orang. Semangat dari para sahabat, dukungan dari saudara dan keluarga, tentunya akan ngebikin gw semakin kuat untuk ngejalanin semua hal dengan lebih baik. Gw gak tau bisa ngebales apa ke mereka, yang pasti gw akan terus berusaha untuk jadi lebih baik. Gw berjanji akan terus memperbaiki diri.

Gw jadi terpikir ke orang-orang yang telah gw kecewakan, "apakah gw masih sanggup masuk lagi ke kehidupan kalian dan memperbaiki semua kesalahan yang udah gw perbuat?" Gw gak tau bisa apa gak, karena kalau orang itu masih belum bisa memberikan dirinya kembali ke gw akan agak sulit untuk gw "masuk" kembali. Tapi, apakah ngebikin gw jadi pesimis? No way! Seorang Ikhwan Aryandi gak akan pernah lari dari tanggung jawab kalau emang udah ngelakuin sebuah kesalahan.

Gw yakin dengan berjalannya waktu, orang-orang yang gw kecewakan kemaren akan kembali "berdamai" dengan gw. Entah bagaimana caranya, entah apa dan kapan, dan entah bisa apa gak. Yang pasti dengan berjalannya waktu tentunya gw akan ngerasain kalau emang waktu itu sosok yang sangat bernilai.

Seharian gw mikir, seharian gw merenung, seharian pula gw ngerasa kalau diri gw semakin "kecil." Gw juga gak tau kenapa orang kaya gw gini masih aja disemangatin. Padahal gw udah bikin kecewa semuanya. Khususnya kepada sahabat gw, mas Do, yang sampai detik tadi masih nyemangatin gw untuk selalu nulis. Kalau emang gw gak tau apa yang harus gw lakukan, mendigan nulis kata dia. Tenang brader, gw akan mencoba terus berkarya di antara "kemandulan" gw sekarang. Gw akan ngebuat apa pun itu walau hanya dengan bentuk rangkaian kata. Dan, media paling gak penting tentunya, blog.

Sampai sejauh mana mata gw memandang, di situlah gw mengerti kalau yang sedang gw kejar ini adalah sebuah makna dari "kebahagiaan." Kebahagiaan gak selalu dapat dilalui dengan proses yang membahagiakan juga kan? Yang pasti di ujung waktu gw masih bisa ngerasain kalau gw sedang mengejarnya. Mengejar kebahagiaan.

Sekarang yang bisa gw lakuin adalah melakukan "pembenahan." Baik pembenahan diri, pembenahan hubungan gw dengan orang lain, dan pembenahan di semua hal yang menurut gw penting. Karena apa? Gw sendiri gak boleh terpuruk ke dalam lubang hitam yang gw bikin sendiri. Gw harus meyakini kalau apa yang terjadi dengan gw sekarang adalah karena diri gw sendiri. Seperti kata Kavina, STOP MENYALAHKAN ORANG LAIN!

Gw harus menyadari kalau yang gw lakukan ini murni kesalahan diri gw sendiri. Gimana menyikapinya? Pertama sih tanggung semua resiko, kedua mencoba memperbaiki diri dalam menghadapi masalah itu, ketiga hadapi masalah itu dengan dewasa dan bijak. Kalau bagian proses ini gw jabarkan di setiap masalah, gw yakin gw akan lebih bisa mendengarkan dan mencerna omongan orang lain. Dan, gw bisa meminimalisasi kekecewaan orang terhadap tindakan gw.

Sejauh ini gw cuma bisa ngerasa kalau diri gwlah yang paling benar. Gw adalah kebenaran. Kasarnya gitu. Tapi, sekarang gw ngerasa kalau yang gw lakuin ini gak benar. Jadinya sekarang jadi nyusruk sendiri kan? Akibat diri gw sendirilah. Jangan pernah menyalahkan orang lain kalau diri gw sendiri belum benar. Itu aja sih inti dari semua yang gw alami ini. Sesampainya gw di garis finis, mungkin gw akan menyadari kalau gw itu aset yang sangat berharga. Melihat berapa orang yang marah sama gw sekarang ketika gw mencoba "berbagi."

Marah itu bentuk kasih sayang juga lho. Gw yakin kalau orang masih mau marah ke gw, tandanya dia masih mau sayang sama gw. Justru gw beranggapan marah itu adalah pujian terindah buat gw. Di saat marah itu biasanya semua unek-unek keluar dengan lancarnya. Seperti kata Mimin, keran aer lagi bocor sebocor-bocornya nih, hehehe. Emang sih kalau analogi dia berbeda, yang dia maksud itu mungkin keuangan. Karena emang dia sedang menyiapkan perhelatan sakral.

Kalau orang udah apatis ama gw, itu justru yang gw takutin. Karena kalau udah apatis yang ada hanya gw "pernah" mengenalnya. Tanpa ada keinginan untuk menjalin silaturahmi yang baik, mencoba memahami lebih jauh, atau memarahi gw. Gw takut ketika orang di sekitar gw sampai pada fase ini ke gw. Semua celah untuk saling memberikan kasih sayang kayanya udah gak ada. Yang ada tadi itu, cuma "pernah" mengenalnya.

Kalau emang orang apatis karena kesalahan dari gw, maka gw yang harus mengembalikan mereka masuk lagi ke kehidupan gw. Gak ada kata lain, dan itu HARGA MATI! Kesalahan gw yang mengakibatkan orang apatis akan membuat gw sendiri akan selalu dihantui dengan rasa bersalah yang mendalam. Melihat gw gak mau, menegur gw gak mau, gimana mau marah atau noyor gw?

Sekali lagi, STOP MENYALAHKAN ORANG LAIN!

Gw harus mulai mengubah diri. Gw harus bisa mendengarkan orang lain, gw harus bisa MENCERNA omongan orang lain, gw harus bisa menyadari semua keterpurukan gw sekarang ya karena kesalahan yang gw sendiri perbuat.

Entah sekarang ini titik balik atau bukan, yang pasti dengan keberprosesan gw ini gw yakin kalau gw masih BELUM ada apa-apanya. Yang gw lakukan adalah masih kesalahan anak ingusan yang gak tau apa-apa. Walaupun gw sebenarnya gak suka yang namanya DIAM, tapi gw akan berbicara sesuai dengan porsi masalah yang gw hadapi. Walaupun gw sebenarnya orang yang kadang senang membuat onar, tapi gw harus bisa menanggung semua resiko atas apa yang gw perbuat.

Sampai kapan? Sampai MATI!

Gw adalah Ikhwan Aryandi yang selama ini DIKENAL! Bukan orang lain!

Mencari yang Terbaik

Sebenarnya banyak perasaan baru yang bernaung di benak gw sekarang. Setelah sudah 3 hari gw menjadi pengangguran kembali, gw banyak ngedapetin banyak pelajaran dari apa yang sudah gw dapatkan. Gw kembali menjalani rutinitas gw sebagai sang pencari kerja. Karena emang kejadian ini sangat ngebikin gw menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Benar adanya mungkin, seperti apa yang banyak orang bilang ke gw kalau gw itu jarang dan suka gak mau mendengarkan orang lain. Mendengarkan aja gak mau, gimana mau mencerna?

Kemaren gw abis dikoreksi abis-abisan ama Kavina, kakak sepupu gw paling tua, yang emang udah jadi senior AE di Dwi Sapta. Yang jelas cuma dia yang mengerti apa yang terjadi di dunia gw. Karena emang gw dan dia sama-sama di dunia yang sama. Gw dan dia mengupas sebenarnya apa sih yang terjadi khususnya di dalam pribadi gw yang harus gw selami sendiri.

Gw dikoreksi, gw dinasehati, gw dikasih tau, dan pokoknya gw diberikan gambaran yang jelas menurut dia apa aja sih kemungkinan-kemungkinan yang suka terjadi di industri yang gw geluti ini, advertising. Udah jelas dia lebih senior dari gw. Menjadi AE yang kurang lebih udah 8 tahun lebih, ngebikin dia udah khatam dah ngadepin anak-anak kreatif yang "bebal" kaya gw. Karena emang tugas AE sebagai herdernya anak kreatif.

Percakapan gw yang berlangsung lama dan alot itu ngebikin gw sadar kalau yang gw jalanin ini belum ada apa-apanya. Dibandingkan dengan sejuta tantangan dan pengalaman baru yang akan gw hadapi ke depannya. Apa sih sebenarnya yang sedang gw cari ini? Apakah gw akan ngejadiin dunia yang sedang gw cintai ini sebagai profesi yang sebenarnya akan ngasih "semuanya" ke gw?

Gw rasa sih belum tentu. Sebenarnya gw udah gak seidealis ketika gw di setahun yang lalu. Setahun yang lalu yang hanya gw cari dalam hidup gw ini adalah cuma gimana caranya bisa bekerja di industri periklanan. Sekarang? Kayanya bener seperti yang dibilang dua sepupu gw semalem, gw udah saatnya harus bisa kreatif sekreatifnya dalam mencari apa yang sebenarnya gw mau cari.

Mau bertahankah gw dengan profesi yang dalam tanda kutip hanya "membesarkan" sebagian pihak ini, atau gw mau merek atau mencari semua kesempatan dalam semua kesempatan yang sebenarnya ada 5 cm di depan mata gw?

Yaa, mungkin gw akuin gw gak seidealis gw setahun yang lalu. Dengan lepasnya gw dari pekerjaan gw yang terarkhir, gw udah sangat bisa menjadi sangat baik dalam menghadapi masalah-masalah yang terjadi dalam hidup gw. Apa sih yang gw pengen dalam hidup gw ini? Pekerjaan yang baik? Istri yang saleh? Keluarga yang bahagia? Atau apa?

Gw akuin diri gw sendiri pun gak tau, karena emang yang sedang gw jalani ini adalah keberprosesan yang ada dalam hidup gw. Kalau gw kemaren menaruh prioritas pertama dalam hidup gw adalah mencari pasangan hidup yang bisa menemani gw selamanya, kalau sekarang prioritas itu bergeser sedikit. Bukan menjadi prioritas kedua, tapi tentunya mencari pekerjaan menjadi agenda tersendiri gw dalam menjalani hari-hari gw sekarang.

Dari kemaren sih gw udah berusaha mengirim ke beberapa tempat. Walaupun sekarang gw tau gw lebih bijak dalam mengirim lamaran. Gw gak milih, gw gak ninggin gengsi, pokoknya gw sekarang udah jadi pribadi yang bisa sangat merunduk deh. Gw udah bisa tau apa aja sih yang sebenarnya jadi minat dalam diri gw.

Majalah? Koran? Iklan? Model? Freelance? Atau profesi apapun kayaknya akan gw sabet ke depannya. Gw gak mau terkungkung dengan keterkungkungan yang gw buat sendiri. Kalau kata salah seorang sahabat, "gw rindu ikhwan aryandi yang dulu. Sama-sama masih bego, masih mau belajar bareng, dan sesotoy-sotoynya dia masih bisa menyelinginya dengan canda dan tawa."

Gw akuin semenjak gw menjadikan periklanan sebagai "agama," gw ngerasa diri gw sendiri jadi orang yang paling sombong sedunia. Gw menganggap dunia kreatif itu adalah dunia yang bisa ngasih gw "segalanya." Padahal gw gak sadar seiring dengan itu gw kehilangan teman gw, sahabat gw, pacar gw, dan perhatian orang-orang yang sebenarnya dulu itu sangat kental mendatangi gw.

Menurut seorang kakak, "loe masih anak kecil aja udah sotoy. Mana loe yang dulu? Loe yang mau belajar dan memahami semua aspek yang mendukung pendewasaan loe? Loe seperti tenggelam dalam kurungan yang buat sendiri." Dengan media chatting, kakak gw itu seperti mengeluarkan unek-unek dia dengan semua "kesablengan" yang sedang melanda gw. Dia marah ke gw, dia ngebentak gw, dia tai-taiin gw, dan sebagainya.

Sekarang gw sadar, kalau orang-orang di atas itu adalah sebagian kecil dari jutaan orang yang menyayangi gw dan telah "kehilangan" gw beberapa saat. Gw di sini mau minta maaf atas semua kesablengan gw yang membuat kalian semua seperti "kehilangan" gw. Siapa sih Ikhwan Aryandi? Anak kecil yang masih ingusan dan gak tau apa-apa, tapi berusaha menjadi sebesar yang dia impikan. Tapi, dia bermimpi di siang bolong.

Sekarang sih gw mau sedikit mengubah diri. Gw harus bisa lebih bijak dalam menghadapi semua hal yang terjadi. Apapun dan siapapun gw, tentunya gw gak akan besar tanpa orang-orang di sekitar gw. Apalagi orang-orang yang menyayangi gw. Betapa kecilnya gw ya sekarang, gw tanpa sebuah media pendewasaan, gw tanpa media pencarian, dan gw tanpa "dia."

Apa yang menjadi pembesaran gw lebih lanjut tentunya harus bisa gw jadiin sebagai pembelajaran. Kalau kata bokap gw, "Kalau kamu gak diginiin, kamu akan selamanya jadi orang sombong." Dengan pernyataan yang sangat menohok itu, gw ngerasa kalau gw emang masih belum ada apa-apanya. Berbeda dengan bokap gw yang sebentar lagi genap 57 tahun hidup di dunia. Dan, tentunya dia udah jauh lebih paham asam garam kehidupan.

Gila ya, gw gak nyadar kalau emang banyak banget orang yang sayang ama gw. Banyak banget orang yang ngoreksi gw dan berusaha menunjukan rasa sayang ke gw dengan berbagai cara dan media. Dan gw dulu hanya bisa tenggelam dalam keterpurukan yang gw bikin sendiri. Hanya bisa mengoreksi diri sendiri dan menganggap kalau gw adalah pihak yang paling benar.

Akan tetapi, dengan begini gw belajar kalau gw sendirilah yang harus mengubah diri gw. Pelajaran ini emang sangat berharga. Orang yang sayang sama gw harus bisa gw sayang balik dengan cara gw dan semampu gw. Jangan pernah bilang kalau gw gak mampu kalau gw melakukan sebuah denial dalam ngejalaninnya. Apa yang bisa gw sampaikan tentunya harus tulus dari dalam diri gw sendiri.

Kalau kata KC, "diem aja deh loe. Jangan banyak gaya, kalau emang loe sendiri gak bisa nunjukin kalau diri loe benar." Gw sering ngedenger pernyataan ini misalnya dulu masih terlibat dalam Pagupon. "Kalau gak tau nanya, jangan diem. Kalau udah bener baru loe berhak diem."

Kehilangan itu ternyata gak enak. Gw kehilangan pekerjaan, gw kehilangan sahabat dan teman, gw kehilangan pacar, gw kehilangan semua hal yang sebenarnya gw butuh dalam pendewasaan yang sedang gw jalanin. Sekali lagi, KEHILANGAN ITU EMANG GAK ENAK.

Fiuh... Ipar gw, suami uni gw, baru aja kehilangan ayahandanya tercinta. Dan, gw yakin itu sangat lebih gak enak banget. Kehilangan orang yang paling dicintai. Tapi, gw tau kalau a'a Kimba harus ngerasa kalau kepergian ayahnya ke surga adalah suratan yang harus disikapi dengan baik. Dia harus kuat, sekuat gw sekarang menghadapi "kehilangan" yang memberikan banyak pelajaran ke gw.

Makasih banyak buat Herdi Mcdoo yang sampe detik ini masih terus ngasih semangat ke gw. Dia bahkan nyuruh gw nulis, daripada gak ngapa-ngapain. Nih gw buktikan apa yang loe suruh. Tengkyu brader!

"Walaupun kehilangan itu gak enak, tapi gw tau kalau kehilangan itu menjadi titik awal dalam gw mencari lagi."
"Mencari yang terbaik."
"The best of me."

Tuesday, November 3, 2009

Karya Ikhwan Aryandi

Ikhwan Aryandi Portofolio.

JJ Communication

TV COMMERCIAL

So Klin Pewangi Commercial




Excecutive Creative Director : Jessica Kartika
Creative Director: Bambang Kandoe
Copywriter: Ikhwan Aryandi
Art Director: Leony Kusuma, Endra Wahyu Widodo
Director: Justin Wu
Production House: Caldecott
Klien: WINGS (PT Sayap Mas Utama)

Softener so Klin Premium Commercial



Excecutive Creative Director : Jessica Kartika
Creative Director: Bambang Kandoe
Copywriter: Ikhwan Aryandi
Art Director: Leony Kusuma, Endra Wahyu Widodo
Director: Akhyat
Production House: TFA
Klien: WINGS (PT Sayap Mas Utama)

Kecap Sedaap Commercial


Excecutive Creative Director : Jessica Kartika
Creative Director: Bambang Kandoe
Copywriter: Ikhwan Aryandi
Art Director: Leony Kusuma, Endra Wahyu Widodo, Herdi McDoo
Director: Asep
Production House: ACP
Klien: WINGS (PT Sayap Mas Utama)


Print Ad









Radio Commercial (Kecap Sedaap)



Narrada Communication (Webiste Management)

Creative Director : Adi Sesek Nugroho
Head Bussines Unit : Nanisha Effendy
Account Manager : Astrid Wulandari
: Santi
Web Designer : Jeffri Lustan
: Ignatius Avi
: Reinelda Rastiani
: Meutia
Web Programmer : Widi Pryasto
: Yudha Arvianto
Copywriter : Ikhwan Aryandi
Admin : Trisna Muchtar
: Rengganis
: Handari Putro
: Ari Patria












Monday, November 2, 2009

Tutup Buku

Kembali lagi gw ngerasain perubahan besar dalam diri gw. Gw telah ngelewatin satu fase lagi di dalam kedinamikaan gw. Gw tau masih banyak kurang, gw tau masih banyak mencela dan masih banyak kekurangan yang ada di dalam diri gw yang masih terus belajar ini.

Gw baru aja resign dari kantor gw tercinta (JJ). Kantor yang selama 6 bulan ini udah ngasih banyak banget pengalaman ke gw akhirnya gw siap tinggalkan. Canda tawa dan kehangatan yang pasti akan gw rindukan selalu. Bentakan mas Ray, candaan mas Oni, kewibawaan mas Bambang, dan celotehan dari pak Sigit dan mas Timan yang akan selalu gw kenang karena gw telah bersama mereka selama 6 bulan ini.

Yaa, gak perlu dan gak mungkin gw ceritain kenapa gw resign, yang pasti gw masih ngerasa banyak kurang. Banyak gak bisa membuat orang lain membutuhkan gw. Gw harus selalu bisa ngerasa kalau gw itu banyak kurang. Sepengalaman gw berbicara dengan ibu dan uni tadi, gw harus udah bisa mendengarkan pendapat orang lain. Mungkin kalau sampe orang yang paling gw sayang aja udah ngomong gitu, saatnya gw introspeksi diri.

Semua akan gw jadikan sebuah pelajaran berharga dalam menghadapinya. Positif? Harus kudu mesti wajib kayaknya. Gw harus nanemin semangat positif dalam diri gw. Kalau kata bokap, "kamu harus udah ngerasain begini sejak dini. Kalau kamu menghadapinya lagi di kemudian hari, kamu akan lebih kuat." Gw ngerasain banget pengalaman bokap yang tentunya jauh lebih banyak ngerasain proses-proses seperti ini. Supaya KEBAL kata bokap.

Mungkin ini adalah pembelajaran baru mengenai hidup. Ternyata hidup itu gak hanya meraih, tapi juga mempertahankan. Mudah-mudahan kembali mencoba meraihnya gw ini akan membawa keberkahan gw lebih lanjut dibandingkan seorang ikhwan aryandi kemaren. Gw tau gw lambat laun akan ngerasain kegagalan. Tapi, sesungguhnya kegagalan ini bisa gw jadiin sebagai momen awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Mudah-mudahan Tuhan mendengarkan doa gw ini. Amin.

Di dalam tulisan ini gw mau ngucapin makasih banyak ke mas Bambang Kandoe sebagai guru sekaligus pemimpin gw, mas Ray sebagai sosok yang gw idolakan karena pengalaman yang dimiliki jauh memberikan cerita gw, mas Oni si tampan yang jenakanya gak akan pernah gw lupakan, pak Sigit yang sangat sayang dengan mas Oni, dan mas Timan yang akan selalu berjuang Pulo gadung Bandara hanya dengan motor. Tentunya ibu Jessica selaku orang yang paling tinggi. Gw akan kangen kalian semua.

Terima kasih dan maaf gw haturkan untuk semua pihak yang telah ikut mendewasakan gw di kantor. Dan, tentunya gak lupa mas Herdi Mcdoo, alias mas Dodo yang menjadi guru gw di 16 hari perjalanku kemaren. Mudah-mudahan ajaran dari loe gak akan pernah gw lakuin dalam melangkah lebih jauh. Dan, terima kasih atas kampretnya, kalau gak loe gituin gw gak akan pernah mudeng dan mau ngedengerin omongan loe. Mudah-mudahan loe gak akan lelah mengingatkan gw ya. Gw tunggu JANJI LOE tahun depan!

Pokoknya terima kasih ke semua pihak baik pos Jakarta maupun Surabaya yang telah membesarkan gw lebih baik lagi. Dan, doakan perjalanan gw untuk melangkah lebih jauh dalam pengembaraan gw ini. Karena tanpa doa kalian gw pun gak bakal ada apa-apanya. Semua yang gw rasain selama 6 bulan ini semakin ngebikin gw tabah dalam menjalani apapun itu.

Gw siap melangkah. Gw siap memberikan semua yang terbaik yang gw punya untuk diri gw dan untuk orang-orang di sekitar gw. Amin.

Gw udah kehilangan kata-kata deh. Pokoknya, doakan gw untuk pengembaraan gw ini ya! Terima kasih dan maaf semuanya.

Walaupun gw tau ini sedih dan pahit, tapi gw tau ini yang terbaik dan gw harus kuat. Bulan purnama pun menutup perjalanan lelah gw hari ini. Mudah-mudahan si cantik itu akan kembali esok hari dalam wujud yang jauh lebih sempurna. Walaupun dia sedang sakit.

Ade, cepat sembuh ya! Ikhwan butuh bimbingan terus! Dari semua orang juga tentunya!

Gw akan kembali tancap gigi 5 lagi untuk mencari dan berkembang terus dalam hidup yang penuh dinamika ini.

DOAKAN!

Sunday, November 1, 2009

Bermimpi Tentang Keindahan

Kemaren adalah hari yang sangat spektakuler untuk gw dan temen-temen kampus gw. Dengan bermodalkan kerinduan yang teramat sangat, gw dan anak-anak langsung melenggang ke kampus demi sebuah pertemuan di antara kami semua.

Emang gw sih yang rada telat nyampe kampus. Soalnya gw kalau di hari Sabtu itu kerja dan baru keluar dari kantor sekitar jam 2. Alhasil gw baru nyampe kampus sekitar pukul setengah 4 sore.

Waaa, langsung pecah aja semua rindu yang ada dengan temen-temen gw yang ada. Kami pun langsung riuh dalam gosip dan mencoba memulihkan semua kerinduan yang ada. Setelah semua berusaha berkumpul, kami pun mengocok arisan yang ada. Dan, terpilihlah 2 orang yang mendapatkan arisan itu, Njophiku dan Catra. Padahal awalnya Njophiku itu pesimis terus kalau dateng arisan gak pernah dapet, hehehhehe.

Setelah beberapa kami mengobrol, akhirnya semua hal jadi tertuju pada satu momen. MIMIN AKHIRNYA MEMPROKLAMIRKAN PERKAWINAN DIA DENGAN YOGI! Wow! Gila aja ya tuh sepasang anak cucu Adam yang berhasil bungkam akan semua hal yang terjadi di perkawinan mereka. Padahal udah lama mereka menutupi mengenai tanggal perkawinan. Kata Mimin, ngeri aja kalau udah proklamir tanggal tiba-tiba gak jadi.

Akhirnya Mimin membagikan satu per satu dari kami undangan. Acara tersebut akan diselenggarakan pada akhir bulan ini di salah satu gedung di bilangan Salemba. Dan, ternyata Mimin masih terus berusaha menyatukan kami dengan acara indahnya itu.

Entah kenapa gw sangat senang melihat Mimin dan Yogi akhirnya melangsungkan acara sakral mereka. Mereka tentunya sedang mengalami ribet, riweh, dan indahnya semua proses pekawinan mereka. Karena gw pernah ngerasain kok ribet-ribetnya mempersiapkan perkawinan uni gw.

Dengan kejadian ini, gw yakin kalau semua manusia di muka bumi ini sudah mempunyai garis hidup dan tentunya jodoh yang sudah dipersiapkan-Nya. Jadi kejombloan gw sekarang sebaiknya gak usah dijadikan momok yang sangat, karena gw yakin kalau yang gw lakukan ini semua sudah ada jalannya. Tinggal gimana gw berusaha akan hidup yang gw jalanin itu.

Salah seorang dari my queens akhirnya akan segera melepas masa lajangnya. Mengorbankan masa muda, meniti setiap langkah dari cinta anak manusia, dan melangkah lebih jauh ke dalam bahtera kebahagiaan yang akan menjadi pelabuhan mereka. Yogi sangat beruntung mendapatkan Mimin, dan begitu juga Mimin sangat beruntung mendapatkan Yogi sebagai pasangan hidup. Hal ini gw rasakan memang dari senyum, tawa, dan semua hal yang tergambar ketika mereka membagikan undangan. Gak hanya membagikan undangan, tapi keberhasilan mereka menutupi tanggal perkawinan merekalah yang gw acungi jempol.

Dua anak cucu Adam akhirnya akan segera dipersatukan dalam momen perkawinan yang akan mengikat janji mereka saling melayani sehidup semati dalam kalung yang bernama cinta. Hubungan 4 tahun mereka akhirnya sampai pada titik untuk saling menyelam lebih dalam lagi. Keluarga baru pun akan tercipta dengan naungan cinta yang mendalam.

Dibilang sedih sih ada, melihat Mimin yang tentunya sudah menyelesaikan masa mudanya. Tapi, bahagia banget akhirnya dia telah mencoba melangkah lebih jauh lagi dalam menjalankan fase dalam hidup dia.

Perkawinan. Kata itu emang jadi urutan pertama dalam daftar cita-cita gw sekarang. Entah kenapa setelah gw berulang tahun kemaren gw ngerasa kalau sudah saatnya gw berpikir ke arah sana. Bukannya mau gegabah atau mau buru-buru, tapi emang gw ngerasa sudah saatnya mencari pasangan hidup yang bisa saling menyayangi sekarang. Gw yakin kalau emang manusia itu saling memberi dan menerima. Jadi, di sebuah hubungan itu yang harus didapatkan gak hanya sekadar cinta itu sendiri.

Gw sangat ingin mencipta dan merasa dalam sebuah hubungan yang jauh lebih serius. Gak untuk maen-maen. Gw berkarya, gw mengejar cita-cita, dan semua hal yang gw lakukan demi orang yang akan gw cinta, sayang, dan merasa gw emang akan berani menghidupi dia dengan segenap jiwa dan raga gw. Dan, mempunyai keluarga kecil dan bahagia itulah impian terindah gw sekarang.

Tadi sempet ngobrol ama bokap gw yang lagi dateng ke rumah, bokap bilang, "Kamu kalau emang udah mau kawin, kawinlah. Gak usah ditunda-tunda." Hahahhaa, kaget aja gw udah disuruh begitu. Tapi, ini adalah sebuah cambukan buat gw. Karena emang dari orang-orang yang sudah mendahului gw, hampir semua mengatakan kalau bisa kawin muda kenapa gak. Karena di saat usia masih sangat produktif, gw bisa meniti dan memberikan kasih sayang ggw ke orang yang emang gw cinta dan gw sayang.

Ngedenger semua pengalaman orang dan harapan dari bokap gw timbul satu pertanyaan, PASANGANNYA SIAPA? Hahahhahaha, jadi cekikikan sendiri jadinya. Jomblo gini mau nikah ama siapa?

Tapi, liat aja, gw akan buktikan kalau emang gw adalah orang yang mampu dan siap melangkah lebih jauh lagi. Kalau emang diizinkan Tuhan dan gw mendapatkan orang yang gw yakin seutuhnya, gw akan segera meminangnya sebagai istri gw. Entah siapa itu, entah kapan, dan entah bagaimana prosesnya. Karena jujur aja, kalau gw hanya mengagendakan hidup gw dengan pekerjaan doang, jujur hidup gw gak akan berwarna. Dengan keinginan untuk menikah, tentunya hidup gw akan jauh lebih berwarna. Karena dengan adanya agenda itu, gw yakin kalau dalam proses hidup gw, gw selalu ingin "memberi" lebih dari yang gw bisa.

Momen Mimin dan Yogi ini sangat memberi inspirasi ke gw. Jomblo bukan berarti gw gak bisa berpikir ke arah sana kan? Jomblo bukan berarti gw hanya tenggelam dalam penantian tak berujung kan? Karena gw tau gw akan BERUSAHA mewujudkan semuanya. Demi kebahagiaan, kebahagiaan gw dan orang-orang yang gw sayang di sekitar gw. Amin.

Liat aja, omongan gw di atas gak akan hanya jadi wacana. Kalau emang gw sanggup menjalaninya lebih awal, kenapa gak? Menjadi sendiri tampaknya bukan solusi yang baik. Karena perkawinan itu indah kok, kalau kata orang-orang yang sudah melewatinya. Jangan pernah mengeluh akan arti dari nilai perkawinan, kalau gw sendiri belum pernah melewatinya. Sampai kapan pun yang ada nanti hanya gambaran buruk dari pengalaman orang lain yang emang buruk dan semakin membikin buruk gambaran gw tentang perkawinan.

Jadi, perkawinan buat gw sekarang bukan hanya wacana. Tapi AGENDA. Mudah-mudahan Tuhan mendengarkan doa dan usaha gw ini. Amin.

Kembali ke cerita arisan gw tadi, gw jadi ngeliat kalau emang gw itu masih butuh yang namanya berkumpul dengan children-children. Dan kami pun menyadari kalau kami masih saling berkumpul.

Ketika sore hari setelah semua anak-anak pulang karena ujan yang akan turun, seorang sahabat datang ke kansas. Dia baru aja ngikutin seminar tentang tuna rungu yang tampaknya akan jadi sebuah keilmuan baru di kampus gw. Yaa, gw berusaha melepas kangen, tapi ada daya, dia masih terlalu "dingin." Hanya senyum dan tawa yang bisa gw lakukan. Menyenggolnya pun gw masih tidak berani. Apalagi berbuat tidak sesuai dengan hal yang di luar batas.

"Tapi, jujur gw masih sangat merindunya."

Mungkin di saat ini bersitegangnya kami hanya bisa disikapi dengan senyum. Dia masih gak tau perasaan rindu yang mendalam terhadapnya masih terpatri di dalam benak gw. Walaupun gw orang yang katanya gak bisa mendengar dan mencerna, tapi gw masih punya sisi sensitif dalam merindu dan menyayangi. Mungkin Tuhan punya rencana tersendiri. Kalau emang jodoh, gw yakin kalau gw dan dia akan dekat kembali. Amin.

Sebenarnya gw kemaren terlibat pembicaraan dengan dua orang sahabat lagi di Kansas. Setelah semuanya pulang, dan gw terlibat membicarakan semua hal yang terjadi di dalam hidup kami bertiga. Mudah-mudahan penelanjangan kita bisa jadi titik balik untuk saling mengoreksi diri sendiri ya. Begitu banyak hal yang tak terlihat dari gw, dan yang tak terlihat oleh kalian, tapi menjadi terlihat karena momen semalam. Makasih ya, untuk dua orang yang sangat baik menemani malam Minggu gw kemaren. Dan, maaf kalau gw masih terlalu jauh untuk dilihat sebagai sosok yang sempurna oleh loe berdua.

Begitu banyak doa yang gw haturkan di tulisan gw kali ini. Mudah-mudahan bisa jadi penyemangat gw dalam mewujudkannya menjadi sebuah realitas hidup. Amin.

Dari tadi tuh gw ngobrol-ngobrol aja ama nyokap dan bokap yang lagi di rumah. Tapi, bokap besok subuh sudah berangkat lagi ke Merak. Jadi gw harus bisa menikmati waktu sejenak untuk saling berbagi dengan bokap.

Oh iya, saudara kembar gw, Muhammad Jabal Altariq hari ini berulang tahun yang ke-23. Mudah-mudahan loe diberikan kemudahan dalam hidup. Baik cinta dan pekerjaan, amin. Cepet dapet kerja yo!

Tulisan gw kali ini adalah tulisan gw ke-200. Masih dikit banget ya? Masih belum pantes gw dibilang penulis. Gw masih harus terus belajar, dan bermimpi tentunya. Bermimpi apapun.

Bermimpi tentang "keindahan."

Thursday, October 29, 2009

Keberanian Mencoba Hal Baru

Baru aja gw ngalamin keterpurukan sendiri di depan rekan kerja gw. Gw jadi ngerasa gak banget deh pokoknya. Gara-gara kejadian konyol yang gw lakukan di saat meeting, itu ngebuat gw mendapat teguran dari banyak pihak. Tapi, gak kenapalah. Yang pasti kejadian ini ngebuat gw jadi ngerasa perlu untuk mengoreksi diri.

Sebenarnya sekarang gw mau nyeritain kejadian lucu. Gw ngedapetin pelajaran baik dari seorang tukang handphone!

Jadi hari ini tuh gw kesal karena Blackberry gw agak rusak sedikit. Soalnya trackball-nya itu gak bisa di-scroll ke arah atas. Jadinya gw gak bisa ngapa-ngapain dengan hape gw itu. Sebelumnya gw mikir, apa gw betulinnya ke ITC Fatmawati aja ya. Tapi, pertimbangan jauhnya itu ngebuat gw urungkan niat gw itu.

Setelah itu, gw putuskan untuk mencoba ke toko hape di PTC, dekat kantor gw. Setelah nyari-nyari dan kesal karena gak ada yang berani membongkar Blackberry, gw tertuju ke sebuah toko yang jauh dari kesan baik. Toko itu kemel, solder dan sparepart hape banyak dan berantakan. Pokoknya gak banget deh.

Gw langsung mendatangi dan bertanya ke toko itu, "berani bongkar Blackberry gak?" Orang itu ngejawab, "emang apa kerusakannya?" Setelah gw jelaskan, gw dihadapi dengan harga servis yang menurut gw sangat mahal.

Awalnya gw ragu. Tapi, setelah berpikir dan mencoba nawar, akhirnya gw putuskan yaudah gw benerin sama toko itu. Dengan sedikit khawatir gw melihat hape gw itu sedang dibedah ama dia. Dengan piawai dan penuh kehati-hatian orang itu membongkar dan membersihkan trackball hape gw.

Akhirnya selesai juga hape gw dibedah. Dan, emang benar hape gw sekarang sudah benar. Lah, gw malah nyeritain prosesnya ya? Sebenernya gw ngerasa aneh ketika tukang hape itu ngomong. Awalnya gw nanya kenapa mahal harganya, terus dia bilang kalau itu adalah sebuah harga untuk membuka hape yang dia sebenarnya belum begitu familiar. Nah, kalau belum familiar kenapa berani ya ngebongkar hape gw?

Di sinilah dia bilang, kalau dia masang harga tinggi karena kalau terjadi apa-apa dengan hape gw itu, ya dia harus mengganti sesuai harganya. Misalkan setelah dibongkar hape gw itu mati, atau gak bisa nyala. Di situ dia nyeritain kalau kemaren ini dia pernah bongkar hape Nokia E78, terus hape itu mati. Dan, setelah itu dia harus menggantinya seharga Rp 4 juta.

Gw tanya ke dia, "kok loe berani bongkar hape yang emang loe gak pernah bongkar?" Dia ngasih tau kalau di situlah kenapa dia pasang harga tinggi. Kalau emang gak rejeki dan dia harus mengganti rugi hape itu, setidaknya dia sudah "belajar." Belajar di sini adalah membongkar atau membedah hape yang sebelumnya dia belum pernah bongkar.

Kata dia, "ada harga ada keberanian bos, Kalau gw gak begini gw gak akan pernah belajar."

Buset dah, gw kaget banget dengernya. Soalnya gak sembarangan lho ngebuka atau nyoba sesuatu yang belom pernah gw coba. Jujur kalau gw jadi tukang hapenya, gw masih agak takut melakukannya. Tapi, tidak dengan dia. Dia berani membayar ganti rugi jika terjadi apa-apa dengan hape gw. "Misalnya gw harus bayar 5 juta, gak apa-apa bos. Itung-itung biaya belajar gw."

Gila ya, tukang hape aja yang bisa dibilang pembelajaran dan pemerolehan pengalaman dia hanya dari hape ke hape, tapi dia tetap berani "belajar." Walaupun itu sebenarnya membutuhkan biaya besar. Gw salut banget dengan keberanian tukang hape itu dalam menantang konsumennya, yaitu gw.

Gw mikir kalau gw seperti itu juga ya harusnya. Keberanian untuk belajar atau mencoba hal baru. Emang sih, butuh pengorbanan, tapi setidaknya gw pernah melewati atau pernah mencobanya.

Sepulangnya gw dari ngebetulin hape, gw jadi terngiang-ngiang ama keberanian tukang hape itu. Dan gw salut! Heheheheh. Seenggaknya gw dapet pelajaran kalau emang keberanian mencoba hal baru itu emang butuh perkiraan, perhitungan, tapi kadang butuh pengorbanan yang besar dalam melewatinya. Dan, gw harus bisa bikin mindset di kepala gw kalau gw harus bisa seperti itu.

"Masa gw kalah ama tukang hape?"

Mungkin kejadian gw ini ngasih banyak inspirasi ke gw dalam mencoba semua hal baru di depan. Yang pasti gw akan mengenang ucapan tukang hape itu. Dan, keberanian itu kadang membutuhkan biaya banyak, heheheh.

Intinya jangan pernah takut mencoba. Meskipun itu "mahal."

Keberanian datang dari diri sendiri.
Memupuknya dan menggunakannya di saat yang tepat.
Di situlah keberanian menjadi sangat mahal.
Dibandingkan "harga" yang harus dibayar.

Tuesday, October 27, 2009

Jenuh

Gw jadi teringat temen gw ngomong kalau apa sih yang gw cari dalam hidup gw ini apaan selain menjalankan roda proses dalam hidup?

Kemaren gw baru aja kesentil ama tulisan mas Handoko yang bertemakan brand gardener. Gw ngerasa kesentil karena jujur aja gw sebagai seorang pembuat iklan kadang pernah pesimis dengan keberadaan gw di industri ini. Pesemis karena gw bukan berasal dari latar belakang pendidikan terkait. Ternyata keresahan ini dirasakan sama oleh mas Handoko.

Dalam tulisannya, mas Han mencoba mengupas kenapa kejenuhan akan pembuat iklan melakukan yang dinamakan keberanian untuk terus berkembang jangan hanya mempedulikan kehidupan iklan dihubungkan dengan jualannya doang. Atau hubungan dengan klien aja. Pembuat-pembuat iklan harus bisa ngejabarin semua produk itu kembali ke sebuah hubungan antarmasyarakat.

Gw ngerasa bagus aja tulisannya mas Han karena emang gw ngerasa tulisan dia gak bakal termakan oleh zaman. Karena itu menyindir semua pihak yang emang ngerasa tentang fenomena yang diangkat.

Nah, kadang di sini gw ngerasa apakah gw harus takut dalam ngejalanin sesuatu yang emang bukan gw ahlinya?

Wah kalau gw berpikir kaya gitu, rasanya gw gak mungkin berani untuk terjun ke industri kreatif ini. Gw bukan berasal dari latar belakang pendidikan yang mendukung. Abis gitu, gw terjun ke industri ini benar-benar cuma modal dengkul doang. Gak punya pengalaman, modal pernah magang doang, dan gak punya keahlian apa-apa. Tapi, gw punya niat baik dan kemauan keras.

Yayayayyayayya, mungkin orang suka menafikan apa yang gw sebutin terakhir itu. Niat baik dan kemauan keras. Tapi, sebenernya cuma dua itu yang ngebikin gw sampai sekarang masih terus berusaha survive di industri yang sebenarnya gw buta banget.

Tergantung dari gwnya juga sih. Kalau emang gw mau mengikuti arus waktu gw lulus kemaren, mungkin gw gak bisa nyemplung di industri kreatif ini. Gw gak bilang kalau dunia yang sedang gw geluti inilah yang akan ngasih gw masa depan. Tapi, intinya kan dijalanin dulu. Setelah menjalani dan ngerasain semua dinamikanya, baru gw bisa mutusin apakah gw nyaman berada di sini.

Banyak dari kawan-kawan bahkan sampai sekarang belum tau apa yang diinginkan sebenarnya. Tapi, gw pun juga masih belom tau apa yang gw ingin dan mimpikan. Tapi, kembali lagi, dijalanin aja. Selama gw masih bisa ngejalanin, gw bisa ngerasain semua proses yang terjadi dan pada saatnya gw akan memutuskan.

Mungkin gw sekarang jenuh. Bukan jenuh dengan pekerjaan gw, tapi jenuh dengan rutinitas yang gw jalanin. Bangun pagi pulang malem, Senin sampe Sabtu, dan berkutat dengan pekerjaan, mungkin itu yang ngebuat gw ngerasa bosan. Bosan ama rutinitas lebih tepatnya.

Tapi, gw senang kok ngejalanin semua proses ini. Karena kalau gw gak senang, yang ada gw bakal gak ikhlas ngejalanin semua prosesnya.

Teringat tulisan mas Han itu gw jadi ngerasa kalau yang seharusnya gw lakuin harus dengan niat ikhlas dan kemauan yang keras. Baru gw akan menikmati semua dinamika yang terjadi. Soalnya gw pun gak tau mau gw bawa ke mana arah hidup gw ini. Jadinya gw ngerasa penting untuk terus berniat ngejalanin semuanya.

Gw sedang jenuh, ya itu emang prosesnya. Jalani, maka gw akan ngerasain sejuta perasaan lain yang emang bakal bikin hidup gw lebih berwarna.

Setuju?

Sunday, October 25, 2009

Gw Dengan Pekerjaan

Kadang emang kalau mau ngikutin semua hal atau kepingan proses yang terjadi dalam hidup, gak bakal yang namanya bisa semua keadaan bisa dijalanin dengan baik. Apa yang gw lakukan dalam keseharian gw ini mungkin gak dirasakan oleh orang-orang di sekitar gw. Yang bisa gw lakukan adalah bercerita, walaupun dirasa kadang sulit untuk membayangkan seperti apa.

Contohnya ketika gw berjalan untuk acara Kirab Bedug kemaren. Setelah berjalan selama 16 hari di luar daerah itu, gw kembali ke rumah. Dengan kulit sedikit gosong karena terbakar matahari (sombong karena gw putih, hehehe), dan keadaan badan yang letih, gw balik dan rasanya saat itu juga gw mau berbagi ke orang-orang di rumah tentang apa yang udah gw jalanin selama 16 hari itu. Tapi, gw gak bisa ngelawan kelelahan dan akhirnya gw pun gak sanggup untuk bercerita.

Gawatnya ketika gw udah siuman, otak dan pikiran gw blank alias gak tau apa yang mau gw ceritain. Padahal sebenarnya banyak cerita-cerita yang mau gw bagi ke orang-orang di rumah. Akhirnya gw cerita dengan semampu gw. Dan, yang gw tangkep adalah yang gw rasakan selama 16 hari kemaren itu biarlah menjadi kepingan klip yang udah gw jalanin. Karena mua gw cerita sampe berbusa juga, yang tau rasanya ya cuma gw sendiri. Orang hanya bisa mengira, tersenyum, dan sulit untuk sama merasakan seperti yang gw rasakan.

Contohnya tadi gw baru aja bercerita bareng nyokap. Nyokap ngejelasin sebuah proses yang baru aja dijalanin ama dia bareng orang yang udah lebih dari 25 tahun bersamanya. Ya apalagi, kejadian-kejadian seiring dengan proses yang baru aja dijalanin ama bokap gw. Yang gw bisa lakukan adalah mencoba mendengar, merasakan, membayangkan, dan mencoba melihat jika gw berada di situ. Karena emang gw saat kejadian itu gak ada di lokasi, dan gw agak sulit mencoba merasakan apa yang nyokap gw rasakan.

Nah, gw pun bisa ngerasain kan kalau gak semua proses yang sebenarnya asik untuk gw ikutin bisa gw rasain juga. Sekarang gw jadi bisa lebih berpikir kalau yang orang-orang rasakan itu ya hanya orang itulah yang tau. Mau gw punya indera keenam juga, gw gak bakal bisa ngerasain apalagi tau seluk beluk semua hal yang terjadi dengan orang lain.

Di sini gw mau nyoba menjabarkan apa orang lain ngerasain perjuangan gw dalam meniti pekerjaan gw? Apakah orang bisa merasakan yang gw rasain baik dalam perjuangan bekerja atau semua proses yang bernaung di dalamnya?

Untungnya keluarga gw sangat memahami semua dinamika yang terjadi antara gw dengan pekerjaan gw. Khusunya ibu, yang sangat bisa memberikan gw pemahaman bahwa gw harus jadi pribadi yang kuat dalam ngejalanin semua proses ini. Uni dan adek gw juga sangat memberikan semangat dan selalu mengoreksi gw di kala gw salah di mata mereka.

Gw ngerasa kalau keluarga gw emang gak ngerasain yang gw lakukan di Pulo gadung seperti apa. Gw bangun dari subuh, menempuh 3 jam perjalanan, nyampe rumah lagi di atas jam 8 malem, dan semua hal yang tentu butuh pemahaman. Ditambah mereka gak tau gw ngapain, gw seperti apa, dan sebagainya. Tapi, wujud pemberian semua hal itu ngebuat gw mereka sudah mencoba masuk ke dalam kehidupan pekerjaan yang gw laluin dan mereka berusah menghargai sesuai dengan kemampuan yang bisa mereka berikan kw gw.

Ikhlas? Jangan tanya dah. Sejelek-jeleknya kelakuan gw, sebaik-baiknya perilaku gw ketika kembali ke rumah, gw tau mereka ngerasa ikhlas dalam "memberi" semua yang bisa mereka berikan ke gw.

Tentunya kalau berani memberi, harus siap juga terhadap semua perasaan yang timbul seiring dengan proses yang terjadi. Bentuk berantem, ketidakcocokkan, atau bentuk lain yang dirasa negatif tentunya akan selalu terjadi. Apalagi gw tau gw ini masih jauh dari baik, tentunya kles atau gondok pasti terjadi seiring berkembangnya perilaku gw.

"Di situ gw ngerasa kalau keluarga gw itu menghargai gw dengan pekerjaan gw."

Gimana rasanya kalau gw tidak dihargai secara gw dengan pekerjaan gw? Di sini gw bisa marah atau justru sedih. Orang lain di luar lingkungan pekerjaan gw yang menuntut gw dan gak bisa memahami gw dengan pekerjaan gw misalnya. Wah gila aja gw ngerasanya. Karena di sini akan timbul perasaan bahwa gw hanya dihargai secara pribadi tanpa adanya berusaha memahami pengorbanan gw dalam meniti cita-cita gw. Jadi misalnya ada kelakuan-kelakuan yang disebabkan gw dengan pekerjaan, gw hanya bisa "diserang" tanpa adanya keinginan untuk memahami.

Apalagi sekarang ini gw akuin jangankan teman, keluarga aja hanya bisa gw sempatkan waktu gw di akhir minggu. Ya, karena emang waktu dan badan gw bisa gw berikan ke mereka cuma pas weekend. Berusaha untuk colongan pas hari kerja mungkin bisa, tapi itu kemungkinannya kecil banget. Apalagi medan kantor gw yang jauh di belahan Timur, dan beban pekerjaan yang kadang ngebuat gw tersita dengan sangat.

Tapi, misalnya terjadi kles dalam hal ini gw akan berusaha memberikan pemahaman kepada orang yang gw rasa gak menghargai dengan pekerjaan gw. Emang kalau dipikir mereka gak ngerasain yang gw rasain di Pulo gadung. Pemahaman emang gak segampang itu tersampaikan. Sekali lagi orang yang gw anggap seperti itu gak ngerasain yang gw rasain. Jadi, proses sekali lagi bermain di sini. Sebuah perjuangan mengenai pemberian pemahaman jadi agenda tersendiri di sini.

"Kamu harus bisa mencari pasangan hidup atau istri yang bisa memahami kamu dengan pekerjaan kamu. Gak hanya kamu sebagai pribadi semata."

Gw sangat bisa mahamin emang seperti yang dikatakan nyokap gw di atas itu yang harus jadi landasan gw. Karena kalau gw cuma bisa mencari pasangan yang mahamin gw tanpa mahamin gw dengan pekerjaan gw, alamat gw berantem terus pasti. Load pekerjaan yang kadang membunuh, dan kadang gw pulang sampe pagi itu bisa jadi masalah tersendiri misalnya "dia" gak bisa memahami gw dengan pekerjaan gw.

Karena masalah waktu aja gw bisa gak harmonis nanti. Padahal sebenarnya waktu itu jadi hal yang sangat penting. Gw ngerasa kalau gw gak bisa memberikan waktu, tapi itu disebabkan gw dengan pekerjaan, rasanya tenggang rasa lebih diperlukan di sini. Sampe kapan pun pasangan gw itu juga gak berada di lingkungan pekerjaan gw.

Misalnya kaya dulu aja. Waktu gw transisi dari kuliah ke dunia kerja yang ketika gw masih gw kuliah gw bisa selalu ada untuk teman-teman gw. Dan, pasangan gw waktu itu. Tapi, ketika gw terjun ke dunia kerja, jangankan dia atau teman, keluarga aja cuma bisa gw kasih waktu pas weekend.

Di sini gw pengen nyoba ngupas kalau orang-orang lain di sekitar gw menghargai gw dengan pekerjaan gw, tentunya mereka gak hanya bisa menuntut keberadaan gw untuk mereka. Tapi, sebuah pemahaman akan gw untuk bisa memilah dan memilih di antara semua kesempatan dan sekat waktu yang terbentuk di semua kesibukan, gw akan mereka lakukan dan rasakan. Kalau pernah baca tulisan gw yang sebelum-sebelumnya, terlihat kalau gw sangat bahagia ketika menemani keluarga gw untuk belanja, makan di luar, atau semua hal yang walaupun cuma bisa gw berikan pas akhir minggu, tapi gw ikhlas memberinya.

Gw ikhlas memberikan dan menjelaskan kenapa gw begitu. Mereka belum tentu. Tapi, kalau gw juga berusaha ikhlas dalam memberi semuanya, tentunya akan terbersit dalam benak mereka, walau gak berada dan merasakan proses yang terjadi dalam diri gw, mereka akan tetap mencoba menghargai. Walau hanya senyuman nyokap, bawelan uni gw, kelakuan adek gw, dan tangisan Troy, tapi gw ngerasa mereka menghargai gw dengan pekerjaan gw.

Itu keluarga gw. Teman atau sahabat gw? Itu belum tentu. Mereka bisa ngejadiin kalau yang gw lakukan itu mungkin jauh lebih sedikit dari yang gw kasih ke keluarga gw. Tapi, gw sanggup kok memberikan semua pemahaman agar mereka juga menghargai gw dengan pekerjaan gw. Hingga begitu, sampai pada saatnya gw menemukan orang yang siap menemani gw dalam berproses dengan terus menghargai gw dengan dua sisi itu. Istri gw kelak. Amin.

Itu sih yang mau gw coba tekankan. Yaitu hargailah orang gak hanya dari satu sisi orang itu aja. Tapi, hargai juga dia dengan apa yang melingkup dan melingkar dalam hidupnya. Kalau gw udah bisa menjalani pemahaman kaya gitu, mungkin perasaan untuk mengingkari atau mengkhianati orang itu gak bakal gw lakuin (insya allah). Karena toh gw gak berada di posisi dia juga. Waktu untuk gw? Ya, semua itu bisa dicari dengan proses. Gak cuma lebih dari sekedar waktu, proses lain yang dilewati di antara semuanya jauh lebih bernilai kalau gw sendiri menghargai.

Gw dan pekerjaan gw. Sisi lain yang harus bisa dihargai juga.

Menghargai adalah sebuah pemahaman.
Pemahaman mengenai arti sebuah pemberian.
Pemberian atas keikhlasan yang dilakukan.
Aku tak hanya aku.
Aku juga dengan semua yang di dalam lingkaran hidupku.