Pada akhirnya gw menyadari kalau gw ini adalah seorang pendamba sejati. Mungkin menyayat sebuah perasaan yang kadang terliput oleh rindu yang melanda. Tapi, sungguh malam ini jadi malam yang penuh penantian. Gw pun gak bisa berharap dan terus berharap. Karena harapan kosong hanya jadi sebuah hal yang tak terintegrasi dengan baik.
Melihat semua hal terjadi dengan mulusnya, kadang gw hanya bisa bertempur dalam peluh yang menganga dengan lebarnya. Merangkainya dengan kata demi kata indah, dan hanya bertunggu di sebuah dinding penantian. Jujur, gw merindu dia.
Entah dia sedang ke mana. Entah dia sama siapa. Dan entah dia bagaimana menanggapi kerinduan yang amat sangat. Gw sangat butuh belaiannya, kecupan manis dari bibirnya, dan merasakan pelukan hangat di saat kami telanjang bersama.
Di saat dia membuka helai demi helai makhkotanya, dan menyandarkan seluruh kepercayaannya untuk memberikan semuanya untuk gw. "Loe emang lelaki yang pantas gw berikan semuanya," di malam itu dia mengatakan kalau gw itu seorang lelaki yang pantas di bawah. Merunduk dan terus merunduk merasakan setiap jengkal tubuh indahnya.
Sampai pada satu waktu di saat gw ingin menghunuskan semua perasaan cinta dan sayang yang gw punya, gw pun menangis. Gw pun sontak memeluk dia dan gw mengatakan kalau gw gak bisa hidup tanpa dia. Gw ngerasa kalau gw sangat keji saat itu, gw sangat bajingan saat itu, dan gw gak bisa ngerangkai semua kenangan manis di antar gw dan dia sambil terus mengusap dan mengecup kening indahnya.
Sesekali mengecup bibir kecilnya dan berkata, "gw sayang sama loe."
Perasaan malam itu seakan tak bisa membuat gw sadar betapa berartinya dia. Gw harus bisa melihat dia sebagai sosok suci yang amat sangat bernilai. Dan, gw harus bisa menganggap di sebagai Ratu di antara kebengisan yang cuma jadi petaka. Gw harus bisa memaknai semua keindahan tubuhnya itu cuma fisik. Dan, gw gak butuh fisik.
Selepas kepergian dia dan keinginan dia untuk berjalan lebih jauh lagi, gw seakan menjadi lelaki yang tak bisa menahan semua perasaan. Gw berjalan dan berjalan menapaki jalan hidup yang panjang ini. Ternyata gw sampai pada sebuah titik yang gw harus bisa terus mengagungkan dia.
Atas nama semua kaum Hawa di dunia ini, gw mohon maaf. Gw emang bajingan, gw emang bangsat, dan gw hanyalah pengecut.
Kami tanpa busana, kami tanpa cerita, kami penuh dengan nafsu, kami pun menyadari yang kami perbuat ini salah. Salah karena menganggapnya sebuah kebutuhan, bukan sebuah pernyataan cinta dan kasih sayang.
Mengapa harus malu? Toh ini hanya gw dan dia. Tak ada orang lain, tak ada keinginan lain, tak ada percumbuan lain. Yang ada hanya kita.
Sepulangnya gw dari berjalan panjang ini, gw cuma bisa menganggap kalau kita ini hanya sebuah bentukan kontemplasi dari sebuah kenangan manis di saat kita telanjang bersama. Di saat semua tak ada halangan untuk saling menyentuh, dan tak ada keinginan untuk saling memberi. Yang ada hanya keinginan untuk saling mencumbu. Desahan demi desahan, erangan demi erangan, sentuhan demi sentuhan, dan senyuman demi senyuman.
Bahkan sampai di satu titik penting.
Yaitu CINTA.
Terinspirasi cerita seorang sahabat yang ingin dibuatkan sebuah fragmen hidup dari pengalaman yang pernah dia alami.
Demi sahabat yang tak ingin disebutkan namanya.


