Saturday, November 21, 2009

Puisi Sahabatku

Pada akhirnya gw menyadari kalau gw ini adalah seorang pendamba sejati. Mungkin menyayat sebuah perasaan yang kadang terliput oleh rindu yang melanda. Tapi, sungguh malam ini jadi malam yang penuh penantian. Gw pun gak bisa berharap dan terus berharap. Karena harapan kosong hanya jadi sebuah hal yang tak terintegrasi dengan baik.

Melihat semua hal terjadi dengan mulusnya, kadang gw hanya bisa bertempur dalam peluh yang menganga dengan lebarnya. Merangkainya dengan kata demi kata indah, dan hanya bertunggu di sebuah dinding penantian. Jujur, gw merindu dia.

Entah dia sedang ke mana. Entah dia sama siapa. Dan entah dia bagaimana menanggapi kerinduan yang amat sangat. Gw sangat butuh belaiannya, kecupan manis dari bibirnya, dan merasakan pelukan hangat di saat kami telanjang bersama.

Di saat dia membuka helai demi helai makhkotanya, dan menyandarkan seluruh kepercayaannya untuk memberikan semuanya untuk gw. "Loe emang lelaki yang pantas gw berikan semuanya," di malam itu dia mengatakan kalau gw itu seorang lelaki yang pantas di bawah. Merunduk dan terus merunduk merasakan setiap jengkal tubuh indahnya.

Sampai pada satu waktu di saat gw ingin menghunuskan semua perasaan cinta dan sayang yang gw punya, gw pun menangis. Gw pun sontak memeluk dia dan gw mengatakan kalau gw gak bisa hidup tanpa dia. Gw ngerasa kalau gw sangat keji saat itu, gw sangat bajingan saat itu, dan gw gak bisa ngerangkai semua kenangan manis di antar gw dan dia sambil terus mengusap dan mengecup kening indahnya.

Sesekali mengecup bibir kecilnya dan berkata, "gw sayang sama loe."

Perasaan malam itu seakan tak bisa membuat gw sadar betapa berartinya dia. Gw harus bisa melihat dia sebagai sosok suci yang amat sangat bernilai. Dan, gw harus bisa menganggap di sebagai Ratu di antara kebengisan yang cuma jadi petaka. Gw harus bisa memaknai semua keindahan tubuhnya itu cuma fisik. Dan, gw gak butuh fisik.

Selepas kepergian dia dan keinginan dia untuk berjalan lebih jauh lagi, gw seakan menjadi lelaki yang tak bisa menahan semua perasaan. Gw berjalan dan berjalan menapaki jalan hidup yang panjang ini. Ternyata gw sampai pada sebuah titik yang gw harus bisa terus mengagungkan dia.

Atas nama semua kaum Hawa di dunia ini, gw mohon maaf. Gw emang bajingan, gw emang bangsat, dan gw hanyalah pengecut.

Kami tanpa busana, kami tanpa cerita, kami penuh dengan nafsu, kami pun menyadari yang kami perbuat ini salah. Salah karena menganggapnya sebuah kebutuhan, bukan sebuah pernyataan cinta dan kasih sayang.

Mengapa harus malu? Toh ini hanya gw dan dia. Tak ada orang lain, tak ada keinginan lain, tak ada percumbuan lain. Yang ada hanya kita.

Sepulangnya gw dari berjalan panjang ini, gw cuma bisa menganggap kalau kita ini hanya sebuah bentukan kontemplasi dari sebuah kenangan manis di saat kita telanjang bersama. Di saat semua tak ada halangan untuk saling menyentuh, dan tak ada keinginan untuk saling memberi. Yang ada hanya keinginan untuk saling mencumbu. Desahan demi desahan, erangan demi erangan, sentuhan demi sentuhan, dan senyuman demi senyuman.

Bahkan sampai di satu titik penting.

Yaitu CINTA.




Terinspirasi cerita seorang sahabat yang ingin dibuatkan sebuah fragmen hidup dari pengalaman yang pernah dia alami.

Demi sahabat yang tak ingin disebutkan namanya.

Friday, November 20, 2009

Aku Adalah Pendamba

Perjalanan yang sebenarnya sekarang dimulai. Mungkin itu adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan pengembaraan gw sekarang ini. Mulai dari bangun pagi, mencari pekerjaan, mengerkan kerjaan freelance, dan tentunya mengembara mencari cinta dan kasih sayang dari kaum hawa. Yang terakhir emang jadi agenda tersendiri buat gw. Di samping gw ngerasa butuh, tapi emang gw gak menyangkala di antara semua keterpurukan atau kebangkitan gw ini, gw butuh yang dinamakan pasangan, hehehehe.

Berjalan dan berjalan. Itu mungkin yang sedang gw lakukan sekarang ini. Mencari yang terbaik tentunya akan menjadi agenda. Gw ingin semua berjalan beriringan dengan baik dan mencari kebahagiaan dalam hidup. Tanpa batas, tanpa ruang, tanpa pagar, tanpa tembok, dan gw akan mengembara seluas-luasnya. Gw gak mau semua keinginan dan cita-cita gw terhambat karena ketidakinginan gw untuk mendengar dan mencerna omongan orang lain.

Kenapa dari kemaren gw ngebahas tentang mendengar dan mencerna? Ya dua kata ini gw dapet dari seorang sahabat yang telah memberikan pelukan dan kecupan gw di kepalanya semalam, dan membuat gw semakin memaknai dalam mencinta dan menyayangi orang lain dalam bentuk yang paling jujur. Dua kata itu yang harus gw tancepin di dalam kepala dan badan besar gw dalam menjalani hidup gw ke depan. Dan, sahabat itu pun gw harap akan selalu jadi sosok yang mengingatkan gw di saat gw belok atau gak lurus.

Jadi tersenyum sendiri gitu gw saat gw ngerasa diri gw ternyata masih bergerak. Teringat kata sahabat lain, "Gw seneng loe udah gak kerja di Pulo gadung. Loe berubah drastis, dan sekarang sudah bisa mendengarkan kami seiring dengan menurunnya keadaan hidup yang loe jalanin. Loe udah gak sombong." Pernyataan itu sangat menohok gw. Emang gw segitu sombongnya ya saat masih bekerja kemaren? Gw jadi sedih ngeliat sosok gw kemaren. Gak ada alasan lain, kesombongan gwlah yang membuat gw kehilangan semuanya. Teman, sahabat, kekasih, dan pekerjaan gw tentunya.

Diri gw ini ternyata masih jauh dari kata sempurna. Berharap agar gw bisa jadi pribadi lebih baik tentu jadi agenda sendiri yang harus gw maknai lebih. Gw harus bisa berkelana dengan semua sahutan dan teguran dari orang-orang di sekitar gw. Menyerahkan diri pada pesona hidup yang emang sangat bernilai. Inget gak sih waktu gw bilang, "gw mencintai loe, gw sayang sama loe." Dan, gw harap gw bisa bertanya itu ke diri gw sendiri.

Keindahan pagi, terangnya siang, indahnya senja, dan gelapnya malam harus tetap gw maknai sebagai sesuatu yang selalu indah untuk dapat gw lewatkan. Angin tentunya akan membawa gw ke sebuah keharuman dan burung-burung yang ikut terbang bersama gw akan selalu jadi sahabat yang baik dan akan menemani gw dalam wujud sebuah bahtera kejujuran yang baik. Sampai pada akhirnya gw dan burung-burung itu melihat keindahan bunga yang memekarkan makhkotanya di bawah naungan embun pagi yang menyegarkan.

Gw harus bisa, gw harus siap, gw harus terus berjalan. Gw harus bisa menghancurkan semua tembok yang bisa mengungkung gw dari semua yang harusnya bisa gw jalani dengan indah. Lemparan demi lemparan perasaan, kesepian yang kadang menjadi kawan, dan gw adalah penyair dalam setiap puisi dan keindahan kata yang gw rangkai dan buat sendiri. INGAT! Gw ini terbaik!

Hanya di dalam pikiran yang ngebikin gw semakin ngerasa nunduk sekarang. Apalagi ngeliat sosok si Walji Eun (Korean Waljinah) yang dini hari tadi gw anter sampai tepat depan apartemennya di bilangan Lebak Bulus. Sepanjang jalan gw menyetir dalam kantuk yang sangat terasa, sembari berpikir dan melihat keletihan dia yang sedang lelap tertidur, gw ngerasa kok baru sekarang gw bisa jujur ama diri gw sendiri ya?Melihat keletihan dia yang akan kuliah nanti paginya. Membangunkan dia ketika sampai aja hampir gak ada keberanian. Karena emang gw ngeliat kejujuran di dalam letih dan tidurnya. Kejujuran dalam menjalani semua aktivitasnya bersama Pagupon. Hanya lantunan suara hati gw yang sedikit takut, ketika membangunkan dia.

Dia pun terbangun dan melihat kalau sudah sampai. Tanpa banyak kata karena keletihan yang luar biasa dan membuat gw tersenyum, dia pun turun.. Bahagia banget gw ngeliat dia damai di dalam tidurnya. Bahkan melihat panda besar itu melangkah masuk ke dalam apartemennya. Gw telah melakukan kebaikan yang jujur lagi pagi itu. Gw senang, dan gw ingin bercerita tapi gw tau kalau cerita gw ini gak penting. Jadi, untuk diri gw sendiri aja.

Terlalu banyak potret-potret yang gw dapatkan yang membuat gw harus semakin tertunduk. Menyepi di sebuah pojok yang sepi, tanpa cinta, dan membuat gw semakin ngerasa kalau gw itu gak boleh gitu. Gw harus selalu menatap semuanya dengan cerah di depan. Gw harus bisa merasakan embun pagi, teriknya siang hari, terbenamnya matahari di saat senja, dan melihat indahnya purnama yang akan ngebawa gw ke perasaan kalau hidupku ini penuh dengan cinta. Cinta yang muncul dari diri sendiri, cinta gw yang gw dapat dari orang lain, dan cinta yang akan ngebuat gw sangat berharga masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan.

Indah banget ya ternyata kalau hidup ini dimaknai sebagai rangkaian puisi, rangkaian drama, atau rangkaian sastra yang emang gw sendiri buat. Mulai sekarang pun gw gak boleh rabun, gw harus terus menjernihkan mata, mata hati, dan mata perasaan gw dalam ngeliat semua proses dalam hidup gw. Mudah-mudahan apa yang gw anggap sebagai perjalanan ini bisa ngasih banyak kebaikan untuk diri gw. Seindah-indahnya gw melihat sesuatu tentunya akan lebih indah kalau gw melihatnya dengan kaca mata hati yang luas.

Mengubah bayangan, mengubah pandangan, dan mengubah semuanya jadi sebuah sepi senja yang akan terus menghembuskan kebaikan demi sebuah kejujuran yang berliku. Tapi, tetap jujur.

Doakan gw ya dalam menapaki perjalanan yang rumit ini. Ternyata gw emang cuma insan mungil dari rangkaian raksasa yang tentunya cuma berusaha jadi yang terbaik. Minimal untuk diri gw sendiri. Memaknai semua kecemburuan gw akan kebaikan lain sebagai proses pembunuhan semua yang sudah gw perbuat. Gw cuma seorang pendamba.

Aku adalah pendamba yang selalu berjalan di awan-awan.
Aku telah berkelana di sepanjang pantai, di lembah dan gurun.
Aku ingin menyerahkan diri pada pesonamu, menyerahkan diri pada pesonamu.

Ingatkah kau pada malam kita saat kubisikkan kata cinta?
Harus kuakui ku tak benar-benar mencintaimu. (LDB)

Thursday, November 19, 2009

Untuk Pagupon

ORGASME. Mungkin itu kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan keadaan gw sekarang. Gw ngeliat kalau semua perjalanan akhirnya tiba di ujung. Pagupon, tempat gw beranjak dewasa, baru aja nyelesein trilogi pementasan Lelaki di Bawah (2005), Matahari di Belakang (2007), dan pamungkasnya Naluri di Batas (2009). Pementasan terakhir ini dilangsungkan di Komunitas Salihara Pasar Minggu pada 17 dan 18 november 2009.

Akhirnya tiba juga di ujung penantian. Semua kepenasaranan yang dibuatnya sudah terjawab sudah. Tanpa batas, tanpa ruang, dan tanpa pagar yang dibuat oleh semua orang yang sedang atau pernah terlibat di dalamnya. Dengan manis semua rangkaian pementasan 4 tahun ini akhirnya menutup lembarannya dengan sangat manis dan bahagia.

Lelah, senang, bahagia, dan sejuta perasaan mewarnai keberadaan gw dan tentunya orang yang terlibat di dalamnya. Gw emang kali ini hanya berada di luar bagian dari Pagupon. Tapi, entah kenapa dua malam pementasan yang diselenggarakan itu ngebuat gw kembali ke dalam kehagangatan rumah yang sudah lama gw rindukan. Bertemu dengan senior-senior, kembali menjadi adik kecil mereka, dan gw saat ikut di dalamnya itu masih bau kencur banget. Walaupun sebenarnya sekarang gw masih bau kencur sih, tapi bau kencur di dunia kerja.

Melihat antusiasme dan apresiasi yang diperlihatkan dari semua pihak yang menonton, tampaknya emang semua menanti apa jawaban dari trilogi pementasan ini. Akhirnya semua terjawab sudah. Walaupun dengan tangis, tawa, gembira, dan semua hal yang emang ngebikin gw semakin ngerasa sangat bangga pernah berada di dalam rangkaian puzzle ini.

Teringat ketika gw menjadi tim lighting di LDB, menjadi tim seting di MDB, dan menjadi penggembira di NDB. Entah gw ngerasa sangat senang bisa berada di dalam mereka. Mengikuti semua dinamika yang ada, merasakan getir dan manisnya berproses di dalamnya, dan ngerasain semua pendewasaan yang ngebuat gw sangat ngerasa indah pernah di dalamnya. Gw bisa jadi selalu pribadi yang masih "kecil" di dalam menghadapi semua prosesnya.

Gw ngeliat semua proses yang terjadi dalam rangkaian sebagai sebuah "miniatur kehidupan." Di dalamnya gw seperti melihat semua intrik yang terjadi secara jelas dan nyata dalam menghadapi semua proses dalam hidup. Melihatnya sebagai sebuah miniatur yang tentunya ngebuat gw seperti berada di dalamnya. Entah berusaha masuk ke dalamnya, berusaha keluar darinya, atau ingin bertahan dan terus berproses di dalamnya.

Miniatur hidup yang di dalamnya ada kejujuran. Itulah yang gw rasain. Karena emang di dalam ngadepin ini semua kejujuran dalam menilai sesuatu jadi nilai lebih yang ngebuat gw semakin ngerasa baik. Kejujuran emang gw butuhin sekarang. Gak sekarang aja sih, kemaren dan yang akan datang, kejujuran sangat dirasakan benar adanya.

Menghadapi realitas hidup yang sesungguhnya membuat gw semakin ngerasa sangat butuh untuk kembali meluruskan semuanya. Di saat gw belok, sableng, atau di saat gw gak bisa mendengar dan mencerna omongan orang yang ngebuat gw berdiri di atas kebenaran yang gw buat sendiri. Di saat seperti ini Pagupon seperti membuat gw menjadi sangat alim lagi. Membuat gw jadi seperti sangat baik pernah mencintai orang-orang di dalamnya.

Menjadi burung dara-burung dara yang terbang tinggi ke atas, membuat gw juga harus bisa kembali dan pulang ke sangkar. Di saat sangkar itu ternyata adalah sumber kebenaran dalam hidup gw. Melihat semua realitas yang ada dalam hidup, dan rumah atau sangkar itu seperti memberikan spirit baru ke gw. Dengan semua kegagalan, pencapaian dalam hidup, atau kemurungan yang kerap melanda.

Pagupon, seperti memberikan gw makna "rumah" tempat gw berteduh, tempat gw merajut masa tumbuh, dan tempat gw memaknai cinta dan kasih dalam bentuk yang sebenarnya dan jujur. Pagupon, membuat gw semakin memaknai apa itu arti pendewasaan yang terbentuk di dalam proses gw sekarang.

Pagupon itu segalanya buat gw.

Sampailah semua di ujung penantian. Gw dan semua pihak yang terlibat sudah sampai di gerbang penantian yang tentunya akan memberikan kami sebuah cerita manis yang akan selalu dikenang seumur hidup. Saatnya Pagupon melangkah lebih jauh lagi dan memaknai semuanya dalam sebuah agenda baru. Sudah saatnya regenerasi. Apakah sanggup? Gw rasa sanggup, karena emang di situlah tantangan baru untuk adik-adik gw yang masih berkuliah dalam menghadapi semua hal yang terjadi.

Gak selamanya kalian jadi adik, pada saatnya kalian pun akan jadi kakak. Kakak yang ketika bertemu dengan yang lebih kakak, akan jadi lebih merunduk lagi dan menyadari kalau gw ini masih dan terus akan menjadi adik. Itulah keluarga.

Fiuh... Gw udah kehabisan kata-kata deh. Intinya bahtera kepercayaan yang 4 tahun terbentuk ini mudah-mudahan gak jadi hal yang mudah tersapu oleh angin, termakan oleh debu, dan terkikis oleh zaman. Sampai kapan pun kenangan akan terus bernaung di dalam benak semua yang terlibat. Mencintai, menyayangi, dan menjadikan semua ini sebagai pelajaran berharga adalah agenda kita semua, Pagupon.

Terima kasih dan maaf untuk semua burung dara-burung dara yang pernah atau sedang berada di dalam sangkarnya ini. Gw hanya satu dari kalian yang akan terus pergi dan terbang jauh ke atas sana dalam memaknai perjalanan hidup yang amat sangat panjang ini.

Gw semakin yakin dalam melangkah dan pergi lebih jauh lagi. Doakan gw kembali dan melihat keindahan itu lagi di masa yang akan datang. Selamat jalan, dan selamat Pagupon.

Aku menemukan keramaian kembali di sini.
Aku mencari separuh hidupku yang hilang di sini.
Aku mencari keindahan dalam "rumahku" ini.
Dan, aku belajar mencinta lebih baik di sini.

Pagupon.

Saturday, November 14, 2009

Jabat Tangan Sahabat

Seorang sahabat hari ini telah memberikan senyum dan jabat tangannya ke gw. Dengan sejuta masalah demi masalah yang terjadi seiring hubungan gw dan dia, akhirnya dia menyodorkan tangannya tadi. Entah apa yang ada di balik senyum dan tawa yang dia berikan ke gw, tapi gw bisa memahami kalau dia sudah bisa menerima dan berbaikan dengan gw.

Emang sih, seberjalannya hubungan gw dan dia terlalu banyak intrik dan masalah yang timbul. Mulai dari permasalahan yang penting sampai yang gak penting. Tapi, di balik jabat tangan dan senyum yang dia tawarkan tadi gw bisa ngeliat sebuah kedamaian agar dapat selalu memberikan yang terbaik di hubungan gw dan dia. Walaupun sebenarnya gw masih menganggap dia sangat berubah. Atau gw yang berubah? Entahlah.

Yang pasti gw akan selalu mendoakan yang terbaik buat dia. Harapan untuk dia mendapatkan apa yang dia inginkan menjadi usaha di dalam setiap napas gw lebih lanjut. Yang gw inginkan hanya agar dia selalu sadar apa yang dia lakukan, dan mengetahui semua kerealitasan yang dia buat sendiri. Walaupun itu menyakitkan.

Dengan derasnya air hujan, gelapnya malam, hangatnya jabat tangan, kebersenyuman di antara gw dan dia, gw senang kami sudah berbaikan.

Seiring dengan berjalannya waktu, she'll always become my precious.

Ngomong-ngomong tentang sahabat, gw baru aja "ditelanjangi" oleh kedua sahabat gw ketika baru nyampe di kampus. Sebenarnya emang gw dan dua orang penggemar gw itu janjian di kampus dan emang mau nyoba ngobrol tentang semua hal. Yang pasti seketemunya gw dengan mereka di kampus gw langsung terlibat dengan percakapan menarik.

Intinya gw selain ngedapetin banyak hal dari kedua sahabat gw itu, gw banyak ngedapetin pembelajaran mengenai hidup lebih banyak lagi. Intinya di sini gw belajar tentang ngedengerin orang. Mencoba mendengarkan dan mencerna lebih dalam apa dan bagaimana pendapat orang yang terlontar ke gw.

Memaknai mendengarkan orang emang harus dimulai dari diri sendiri. Mencoba mencerna semua dengan meredam semua egoisitas dan perasaan kalau diri yang paling benar. Memahami semuanya dengan baik dan berusaha mencerna pendapat orang. Gw ngerasa kalau masih memaksakan diri gw benar gw gak akan bisa yang namanya mencerna akan setiap ucapan yang diberikan aama orang lain.

Gw yakin kalau gw udah bisa menurunkan dagu gw sedikit dan berusaha sama rendah dengan orang, di situ gw akan bisa ngerasa kalau diri gw sudah mau mendengarkan. Entah dengan cara apa dan gimana, pokoknya gw harus bisa MENDENGARKAN dan MENCERNA semua ucapan dan tindakan orang lain yang ditujukan ke gw.

Dari semua yang bisa gw harapkan dari keinginan berubah gw menjadikan gw pribadi yang jauh lebih baik. Dan gw yakin kalau yang gw lakukan dengan semua hal yang lebih terpelajar bisa membuat gw bisa menekan egois dan sombong yang gw punya, ujar dua sahabat gw itu.

Mendengarkan bukan hanya tindakan, tapi penerapan setelah mendengarkan itulah yang paling sulit. Bertahan dengan pendapat diri sendiri itu cuma jadi bumerang. Bener deh, pengalaman gw ini bisa dijadiin contoh. Gw kehilangan satu per satu teman dan sahabat dengan semua kesombongan dan kesotoyan yang gw punya dan gw akhirnya ngerasa nyesel sendiri. Gw harus apa dan gw harus gimana jadinya?

Dengan semua kejadian hari ini, gw ngerasa kalau jabat tangan, senyuman, dan tawa yang keluar dari orang lain itu adalah simbol-simbol yang harus bisa gw dengar dan gw cerna. Karena emang itu sesuatu yang baik buat gw. Yang akan gw lakukan ke depan adalah mencoba menjadi pribadi yang lebih baik. Kerinduan sahabat-sahabat gw yang banyak menganggap gw berubah jadi agenda tersendiri yang harus gw jawab. Menjawab kerinduan dengan menjadi diri gw sendiri akan membuat gw ngerasa sangat hidup di depan sahabat.

Letih juga gw jadi orang sombong, jadi orang yang gak mau mendengar dan mencerna, apalagi semua itu hanya nengelemin gw ke lobang hitam yang gw bikin sendiri. Sejauh mata memandang, gw harus bisa memaknai semua dengan lebih bijak. Gw gak mau orang jadi terluka lagi karena gw.

Menjadi seseorang tak harus menjadi orang. Tapi, menjadi orang harus bisa menjadikannya seseorang untuk orang lain. Inget, di dunia ini gw gak sendiri. Gw harus bisa terus menyiasati semua hal yang membuat gw sendiri jadi seperti bukan gw.

Gw harus menjadi diri sendiri!
Gw harus menjadi Ikhwan Aryandi!

Fiuhhh... Capek juga ya hari ini. Abis ngeliat latihan Pagupon. Mudah-mudahan semangat itu akan terus ada dengan berjalannya pementasan Naluri di Batas mendatang. Gw harus bisa menyemangati diri gw sendiri agar ketika mereka melihat gw, gw bisa jadi orang yang secara tidak langsung menyemangati mereka. Dengan cara apapun.

Sekali lagi walaupun gw ingin berubah, tapi gw itu bukan orang yang implisit. Dan, gw butuh dibentak, dijitak, ditoyor, dijambak, ditampar, kalau gw salah. Gw emang gak mau digituin, tapi kalau itu cara terbaik untuk "menegur" gw? Lebih baik dilakukan aja, daripada jadinya ngomong di belakang gw?

Hari ini emang bener-bener ngebuat gw harus bisa memaknai apa itu "sahabat."

"Sahabat, terus jadi orang-orang terbaik yang gw kenal ya."

Dan, terima kasih atas jabat tangannya malam ini.
Kamu akan selalu jadi yang terbaik.
Jaga dan jadi diri kamu sendiri ya.
Itu permintaanku. Titik.

Sahabat Adalah Cerminan Diri Sendiri

Teringat malam ini gw jadi ngeliat sebuah sosok sahabat yang begitu memberikan inspirasi ke gw. Sahabat itu selalu menjadi contoh buat gw sendiri.

Yang bisa gw lakukan adalah mencari keberlanjutan hubungan baik gw dengan dia. Ketika gw baru aja nongkrong bareng dia, gw seperti ngeliat diri gw sendiri. Ngedengerin semua cerita dia, curhatnya dia, dan semua yang gw bisa dengerin, gw seperti ngeliat diri gw di dia.

Dia malam ini bercerita tentang semua hal yang dia hadapi di kantornya. Semua hal yang membuat dia seperti ingin resign dari pekerjaannya dia. Dia bercerita mengenai dinamika dan semua hal yang ternyata ngebikin dia begah untuk terus bekerja.

Sebagai seorang teman, gw berusaha tidak memihak dan membuat semua hal positif yang bisa gw berikan. Dari semua hal yang terjadi gw ngerasa kalau yang gw lakukan mudah-mudahan bisa memberikan dia lebih akan arti dari sebuah pertemanan.

Kenapa gw bilang kalau gw ngeliat diri gw sendiri? Ya itu karena gw seperti ngeliat diri gw setahun yang lalu. Di saat gw baru lulus kuliah, meniti karier di dalam pekerjaan dan semua hal yang menurut gw sekarang sedang sahabat gw ini hadapi. Dimulai dengan gaya dia bercerita, masalah yang dia hadapi, dan semua hal yang menurut gw itulah gw setahun yang lalu.

Bekerja dengan penuh arogansi tinggi, tidak ingin berusaha menyesuaikan diri, dan semua hal yang menurut gw sangat sombong gw saat itu. Dia seperti memberikan flashback ke gw mengenai masa yang telah gw lewati. Entah sudah terlewati apa belum, tapi yang pasti dia sekarang ya gw setahun yang lalu.

Gw jadi terinspirasi untuk diri gw sendiri memahami diri gw lebih lanjut. Dia memberikan pencerahan dari semua hal yang menurut gw harus gw ubah. Mendapat gambaran dari dia menjadikan gw semakin ngerasa sangat belum ada apa-apanya. Apalagi gw hanya melihatnya dari sudut pandang gw selama ini.

Gw emang dari dulu ngeliat sahabat ini sebagai pribadi yang kuat. Sudah terlihat dari semenjak gw bersama dalam satu kuliah. Dia sangat tidak bisa menjadi floating mass yang kerap melanda orang. Berdiri di atas pendapat yang dipunya jadi gaya unik sendiri yang membuat gw semakin belajar dari dia. Contohnya, dia berani berpakaian apapun tanpa melihat pendapat orang yang menggunjingnya. Dan, dia tetep pede aja tuh.

Mengagumi dia mungkin sangat tepat. Di samping kepintaran dia, kecantikan dia, kemanjaan (ya Allah manjanya ampuuun, hehehe) dia, gw tau dia itu bakal jadi orang yang lebih dari gw harapkan. Jangankan gw, mungkin dari harapan orang-orang di sekelilingnya dia. Impian dia sangat besar dan itulah yang bakal jadi kunci keberhasilan dia.

Tentunya gw akan terus menjadi orang yang bisa mengerti dia. Dia itu unik, dia itu inspirasi. Salahnya gw adalah kenapa baru deket belakangan ini. Jadinya gw baru ngeliat separuh dari dia yang sebenarnya. Entahlah, gw ngeliat dia sebagai sosok yang outstanding. Di samping kedaerahan yang dia punya yaa, hehehehhe.

Gw seperti ngerasa butuh untuk terus menjadi pawang buat dia. Dan gw akan sangat membutuhkan dia sebagai pawang gw. Cerita tentang sahabat gw yang satu ini emang gak ada habisnya. Gw semakin ngerasa penasaran dengan dia. Gw ingin menyelam dan mengenal lebih dalam dengan dia. Dan, tanpa mengurangi rasa hormat gw ke cowoknya yang saudara gw juga, hehehee.

Dia emang bawel, dia emang manja, dia emang galak, tapi dia itu secara gak langsung ngebuat gw ngerasa kalau itulah dia. Memahami menjadi agenda tersendiri buat gw. Di antara teman-teman sebayanya, dia udah jadi sosok yang lebih menurut gw. Dewasa? Mungkin jadi agenda buat gw dan dia dalam proses saling mengingatkan.

Gw sih gak tau dia menganggap gw kaya apa. Tapi, di sini gw akan terus berproses dan memproseskan diri kepada dia dan membuat dia sendiri tau apa yang gw lakukan ini. Sebagian interaksi yang gw lakukan ke dia, ya itu demi dia. Demi pendewasaan dia, demi teraihnya cita-cita dia, dan semua hal yang tanpa sadar emang gw lakuin buat dia.

Dia akan terus jadi sahabat buat gw. Tempat saling mengingatkan, tempat manja-manjaan, tempat berbagi, tempat mencurahkan isi hati dan perasaan, dan tempat untuk saling menginspirasikan. Mudah-mudahan hubungan gw dan dia awet dah, seawet mumi di Mesir deh pokoknya.

"Bertahan dengan apa yang kamu hadapi itu kuncinya. Dan, tentunya selalu berpikiran positif," itu yang sering gw omongin ke dia. Dengan begitu di saat dia sedang dilanda masalah, gw yakin kalau dia punya pemecahan tersendiri. Walaupun "perbedaan" yang sedang melanda dia dan belum ada jalan keluarnya. Tapi, dia terlihat sangat tough dalam menghadapi semua realitas hidupnya.

Khawatir sih enggak, tapi mungkin sedikit "sayang" gw ke dia yang ngebuat gw ngerasa kalau gw butuh ngejaga dia untuk terus jadi inspirasi.

"Mudah-mudahan kamu bisa meraih semua cita-cita dan harapanmu ya. Aku siap jadi tong sampahnya, hehehehee. Luv you darling!

Dia itu sahabat
dia itu adik
dia itu inspirasi
dan dia itu Christine Evans.

Thursday, November 12, 2009

Semangat

Mungkin yang harus digelorakan di dalam diri gw adalah semangat. Sebelum gw melakukan semua tindakan gw, semangatlah yang menjadi kunci dari segalanya. Apa yang gw dapet, gak bakal berasa maksimal kalau semangat dari diri gw sendiri yang melesu.

Gw baru aja ngelewati sebuah awal dari fase baru perjuangan gw. Gw sudah melaksanakan interview gw di sebuah agensi advertising di bilangan Dharmawangsa. Entah kenapa gw ngerasa sangat percaya diri tadi. Mulai dari perkenalan, mempresentasikan portofolio gw, bahkan sampai menjawab semua pertanyaan dari mereka. Mereka? Ya, yang mewawancara gw dua orang.

Ketika selesai "menjual" diri gw sendiri, gw keluar dari tempat itu dengan optimisme tinggi. Gak tau ya, soalnya gw ngerasa sangat yakin kalau hidup gw ini belum berakhir. Dengan melanjutkan semua proses tanpa "diam" gw yakin kalau pengembangan diri gw akan sampai di satu titik yang membahagiakan. Dan, semangat itu keluar dengan sangat baik dan menggeloranya.

Ngomong-ngomong tentang semangat gw tadi baru aja dari kampus dengan misi menyambangi Pagupon yang sebentar lagi menyelenggarakan pementasan bertajuk Naluri di Batas. Semangat demi semangat berusaha gw berikan untuk semua yang sedang berlatih sangat keras dan giat.

Jujur aja sih, gw tadi ngeliat kalau semangat yang sedang menurun drastis dari semua pihak yang membelakangi semua pergolakan dalam memproduksi sebuah pementasan. Apalagi semua masalah di balik itu harus selalu disikapi secara positif agar bisa mendapatkan hasil yang memuaskan.

Gw akuin emang gw waktu bersama Pagupon sempat merasakan fase menurunnya diri gw. Apalagi pas pementasan Ai Shiteru yang gw ngerasa lagi suck's banget ama Pagupon. Akhirnya gw pun mundur perlahan dan menghilang. Tapi, berasa sedihnya adalah ketika hari H gw mau nonton pementasan itu, gw gak diperbolehkan masuk. Karena emang acaranya di PSJ (Pusat Studi Jepang) dan emang tempatnya tuh kecil banget. Apalagi tiket sudah habis dan gw gak bisa masuk karena penonton yang membludak.

Alhasil gw gak bisa nonton, dan pulang dengan perasaan sedih yang mendalam. Masa gw gak boleh bertamu di rumah sendiri? Huh!

Hehehhehehe, tapi itu kan dulu. Sekarang gw lebih ngerasa kalau Pagupon itu adalah proses yang mendewasakan gw. Mulai dari dinamika yang terjadi di dalamnya, hiruk pikuk, berantem, jatuh cinta, dan semua pelajaran bekerja secara berkelompok gw dapatkan. Pokoknya semua tantangan berorganisasi sangat gw dapatkan di sini.

Entah kenapa gw ngerasa rumah burung dara itu sedang lesu. Ditinggal burung-burungnya, permasalahan yang tak bisa mengikat kepergian mereka, atau apalah. Emang sejauh ini semangat yang menurut gw sedang turun ini gw gak tau apa masalah yang ada di dalamnya. Sebagai outsider, sekarang, gw gak berani bertanya atau mencoba ingin mengetahui. Takut salah aja gw jadinya.

Yang pasti gw harus bisa terus mendoakan agar semangat yang mengiringi Pagupon jangan pernah hilang. Gw harus bisa positif dalam memaknai itu semua. Resikonya kerja sebagai tim itu adalah gak bisa yang namanya menonjol sendirian. Harus bisa saling berbagi di antara teman satu tim.

Cuma jadi buntu deh kalau gw ngerasa paling benar, atau paling baik. Karena yang menilai gw nanti bukan teman satu tim, tapi orang lain yang melihat pementasan tersebut. Orang yang menonton mah bodo amat mau gimana di dalam, yang penting mereka ngedapetin hasil tontonan yang bagus.

Di sinilah gw bilang kalau gw belajar banyak menyemangati diri di saat gw gak bisa jadi yang menonjol sendirian. Karena namanya juga tim, selalu ada koreksi dari teman-teman gw. Di situ gw gak bisa ngerasa jadi yang paling benar sendiri. Emang sih suka ngerasa dibego-begoin, atau ngerasa paling hina sendiri. Tapi, gw jadi belajar gimana gw memaknai sebuah kerjasama.

Hehehehe, gak ada abisnya deh pokoknya kalau gw ngebahas Pagupon dengan sejuta intrik di dalamnya. Entah karena gw sekarang sudah berada di luar, jadi gw suka ngerasa canggung sendiri ketika berusaha "masuk" lagi.

Semangat dalam terus bekerja sama. Itu intinya. Kalau gw udah bisa menyemangati diri gw untuk dapat terus bekerja sama, gw pun akan bisa ngedapetin diri gw dalam bentuk yang maksimal. Sejauh apa? Ya sejauh gw bisa mengoptimalkan dan mengaktualisasi diri lebih baik lagi. Khususnya dalam bentuk berkelompok.

Ini ngasih pelajaran banget ke gw ketika bekerja sekarang. Fase bekerja maksud gw, soalnya gw masih nganggur, heheheehe. Di saat semua tindakan gw diukur dengan profesionalisme tinggi. Gw udah gak bisa ngandelin temen gw, gak bisa ngandeling sahabat-sahabat gw, dan gw menghadapi tim dalam pekerjaan.

Jadinya gw harus bisa memposisikan diri lebih baik di mana pun gw berada. "Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung." Di mana gw berada, peraturan di tempat itulah yang harus bisa gw maknai sebagai "aturan main."

Pokoknya semangat terus untuk Pagupon yang tanggal 17 dan 18 nanti mentas di Salihara. Gw yakin semua yang terlibat di dalamnya akan ngedapetin banyak hal yang akan membuat kalian "kuat" apalagi di saat kalian sudah pergi terbang meninggalkan rumah burung dara itu. Kalian pasti akan merindu.

Semangat pun gw pelajari ketika tadi gw dateng pas latihan. Semua pelajaran yang mem-flashback-an gw jadi sebuah proses tersendiri yang menyenangkan.

Semangat. Itu kata kunci yang harus selalu dipegang teguh. Apalagi di masa-masa gw seperti sekarang. Harus dapat terus maju!

Jadi siapa lagi yang beruntung karena berhasil meng-interview Ikhwan Aryandi? Kita lihat kelanjutannya besok. Dengan usaha yang mendalam tentunya.

Semangat.
Kata yang simpel namun sulit.
Sulit dimaknai secara positif.
SEMANGAT!

Wednesday, November 11, 2009

Doakan!

Kemarin dan hari ini, adalah dua hari yang sangat membahagiakan di keluarga gw. Kalau kemaren adalah hari ulang tahun bokap gw yang ke-57, hari ini adalah hari ulang tahun nyokap gw yang ke-55. Entah kenapa emang rejeki, bokap dan nyokap gw diberi kesempatan untuk ulang tahun secara berdekatan. Jadinya gampang ngerapel perayaannya.

Seiring berjalannya hari, gw tadinya mau pergi ke kampus demi bertemu dengan alumni Sastra Indonesia yang sekarang jadi Associate Creative Director di Dentsu. Gw mau nemuin dia karena siapa tau ada kesempatan yang bisa gw ciptakan. Tapi, niat gw urungkan karena nyokap yang dari kemaren minta ke gw untuk nyopirin jalan. Selama gw masih nganggur gitu. Dan, gw gak tega ninggalin nyokap di hari bahagia dia.

Akhirnya gw pun ngejemput uni gw dan Troy lalu melanjutkan pergi ke ITC Fatmawati untuk membeli yang dipesan bokap untuk mobil. Setelah dari situ gw pun pergi ke PIM 2 untuk makan-makan. Setelah memutuskan untuk makan di Sushi Tei. Bersama adek gw, kami sekeluarga pun makan-makan sekaligus merayakan ulang tahun bokap dan nyokap gw. Walaupun bokap gak ada di tengah-tengah kami, tapi tadi di telepon kerasa kok bokap ikut bahagia mendengar kami sedang makan-makan.

Ngeliat bokap dan nyokap gw di umur yang bisa dibilang udah senja ini gw semakin sadar kalau gw harus segera terbangun dan bangkit untuk melanjutkan kehidupan gw sendiri. Tanpa harus bergantung, tanpa harus meminta, dan sudah saatnya gw memberi ke mereka demi sebuah pengabdian atas apa yang telah gw dapat sejak gw masih di kandungan. Bokap pun mungkin menurut gw udah saatnya pensiun, karena emang di umurnya ini dia udah saatnya gak pergi meninggalkan keluarga, menantang maut, dan jauh dari keramaian.

Sudah saatnya gw mengembalikan apa yang telah bokap dan nyokap gw berikan ke gw. Minimal gw berusaha menjadi yang terbaik di mata mereka, gw rasa udah sedikit membalas apa yang telah gw dapet. Karena gak bakal sebanding dengan apa yang telah mereka berikan sejak gw di dalam kandungan sampe sebangkotan sekarang.

Menjadi yang terbaik di mata ayah dan ibu gw. Itu adalah agenda yang akan gw masukin di dalam daftar gw. Dengan usaha yang menggelora dan doa yang beriringan, gw yakin akan bisa ngasih yang terbaik buat mereka. Uni gw udah bisa ngasih Troy ke mereka. Kalau cucu, gw masih lama deh, hehehehe. Lagian mau bikinnya ama siapa? Masa gw jinah? Mendingan ngejomblow aja deh, nanti dapet yang bener-bener yakin. Baru gw nikahin. Hehehehe.

Happy Birthday Chadri Yunaldi dan Miryam Pythia.
Salam sayang dan cinta dari anak laki-laki kalian.
Mudah-mudahan di umur yang bertambah ini kalian akan selalu menjadi inspirasi.
Inspirasiku dalam menjalani hidup.

Love you Mom and Dad!

Pokoknya belakangan hari gw ini emang banyak ngebawa banyak keberkahan. Mulai dari kepengangguran gw ini, ulang tahun bokap dan nyokap, dan ada satu kabar gembira lagi. Gw udah CUKUR RAMBUT!

Emang gembira apanya? Ya itu tandanya gw besok INTERVIEW PERTAMAX gw di fase perjuangan gw yang baru ini! Mudah-mudahan besok berjalan dengan lancar. Seiring dengan perjuangan gw yang baru dimulai ini. Gw senangnya bukan maen diberikan kesempatan ini, dan gw akan menciptakan peluang agar dapat meraih kesempatan itu. Bener deh apa kata gw, kesempatan itu jangan ditunggu, tapi diciptakan. Jadinya gw akan ngerasa kalau hidup gw itu penuh dinamika dan tantangan. Sampai kapan? Sampai MATI!

Akhirnya emang gw putuskan untuk menyapu bersih akar gigi dan brewok gw serta rambut ikal gak jelas yang sedang menjuntai manis di kepala gw. Dan, gw kembali menjadi sosok Ikhwan Aryandi yang tampan dan elok rupanya, hehehehhee. Iyalah gw ganteng, dan gentong juga pastinya. Gw semakin semangat aja nih menjalani hari gw ke depannya. Karena tercipta sebuah kesempatan baru di awal perjuangan gw ini.

Eits, jangan yakin atau kelewat pede dulu. Interview boleh, tapi itu adalah proses. Jangan kaya yang laen, abis interview terus nunggu. Gw mah gak bakal begitu. Yang bakal gw lakukan besok adalah mencari kesempatan lain lagi. Karena kalau ngandelin dari satu lobang doang, gw akhirnya cuma menunggu godot. Dan gak mau berusaha untuk mencari di kesempatan lain lagi, yang siapa tau justru itu rejeki gw.

Walaupun besok agenda gw adalah interview, tapi setelahnya gw gak akan pernah berhenti dan terus mencari di manakah kesempatan itu yang ada sebenarnya buat gw. Kalau gw begitu terus, gw yakin kalau hidup gw akan selalu berdinamika. Loncat dari satu kesempatan ke kesempatan lain yang tentunya gw akan selalu ciptakan. Intinya gak boleh singgah terlalu lama, dan gw harus terus bergerak mengikuti niat dan naluri gw sekarang. Kalau kata Pagupon mah, Naluri di Batas! Tapi batasnya itu harus dapat gw maknai sebagai awal lagi untuk memulai kebaruan dalam hidup gw.

Jadi sebenarnya batas itu ada apa gak sih? Tergantung sesuai dengan persepsi dan pemahaman yang gw yakini sebagai "batas."

Hahhahahaha, dari tadi gw ngebacot sotoy banget. Gak penting dan gak ada maknanya. Emang sih, tulisan gw gak jauh dari yang namanya SOTOY. Jadi, jangan pernah percaya atas apa yang gw analisis, karena itu semua gak berdasar! Hehehehehe.

Wah, inget besok inget waktu gw baru pertama kali interview pas baru lulus kuliah. Tempat pertama yang gw sambangi adalah Go Ad, advertising di bilangan Tebet. Ya, itu setahun yang lalu. Sekarang? Ikhwan Aryandi dalam wujud yang akan selalu semangat ngejalanin semua realitas hidup yang sebenar-benarnya dengan gaya yang gw akan selalu pertajam, alah? Hehehehhe.

Doain ya semua besok!

Tahap baru.
Semangat baru.
Perjuangan baru.
Semua hal yang akan membarukanku selalu.
Hidup ini indah.
Seindah aku "mengenangnya."

Tuesday, November 10, 2009

Freelance

Huaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh.... Gila aja gw belakangan ini begadang mulu. Begadang yang membawa berkah mudah-mudahan, hehehehehehe. Jadi gw tuh kemaren nyoba bantuin temen gw, Jiwo Mahardika, untuk pitching sebuah proyek yang lumayan gede. Gw ngebantuin segala macem dah. Pokoknya gw kerja serabutan banget. Tapi, tanpa melakukan keahlian gw yaitu copywriting.

Ternyata enak juga ya yang namanya freelance. Pertama adalah gak ada yang ngatur. Terus gak ada ikatan di dalamnya. Gw mau kabur di tengah-tengah kerja juga gak apa-apa. Karena emang gak ada yang namanya kontrak hitam di atas putih. Pengalaman baru sih buat gw, karena emang sebelumnya gw cuma berkutat dengan kantor, kantor, dan kantor.

Hal pertama yang dilakukan bersama adalah brainstorming tentang produk yang akan dan segera ditenderkan. Mulai dari membedah brand, melakukan analisis tentang positioning produk, dan merencanakan treatment apa yang harus dilakukan untuk segera dieksekusi dengan materi konsep yang akan dipresentasikan. Bagusnya semua orang yang ada dan diajak teman gw.

Gw dan teman-teman berhasil menyelesaikan materi presentasi jam setengah 4 pagi. Akhirnya karena gw gak sanggup, gw nginep di kantornya Jiwo. Dan pada jam 9 pagi gw dan teman-teman yang sebenarnya baru 2 hari kenal itu berangkat ke bilangan Karet di dekat Sudirman untuk melakukan presentasi.

Presentasi pun berjalan baik dan gw berhasil memberikan pengertian ke pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya harus bisa dijawab oleh sebuah kreatif dan marketing konsultan. Gw dan anak-anak yang lain pun akhirnya pulang ke rumah, dan berhasil lega karena telah melakukan pitching atas sebuah tender produk yang lumayan unik, yaitu Rumah Sakit Bedah Plastik.

Gw ngerasa dapet sebuah tantangan baru aja ngikutin temen gw Jiwo ini. Padahal gw dan dia hanya baru kenal lewat milis orang-orang iklan yang sebelumnya gw dan dia belum pernah ketemu. Apalagi dengan anak-anak yang lain yang gw sebelumya belum pernah kenal. Awalnya emang hanya atas dasar kepercayaan yang gw kembangkan dalam ngikutin proyek ini. Dan, gw hanya memberikan yang terbaik yang gw punya dalam membantu teman gw ini. Selebihnya, gw hanya ingin agar diri gw terus dapat berkarya dan tidak tenggelam dalam kemandulan yang melanda gw sekarang.

Tantangan sangat berasa banget di saat gw ngelewatinnya. Dan yang gw senang adalah saat gw menjalaninya gw sangat merasa bisa mengembangkan diri. Diawali dengan sikap Jiwo yang selalu memberikan kesempatan kepada timnya untuk saling meng-cover satu sama lain ketika mendapat pertanyaan oleh klien. Ya sepengalaman gw terakhir, entah kenapa dari gwnya yang ngerasa gak bisa "bersuara" ketika gw masih berada di kantor gw yang baru aja gw tinggalin ini.

Yang pasti gw sangat bisa ngeluarin apa yang bisa gw kerjakan. Memberikan yang terbaik di dalam semua hal yang gw lakuin ngebuat gw semakin yakin kalau gw ini emang bisa berguna dengan orang lain. Kata Jiwo, "jangan pernah ngomong takut, gak bisa, atau sejuta kata penyanggahan yang lain, terhadap semua potensi yang loe punya. Di situ loe akan semakin ngerasa kalau diri loe itu sangat bernilai."

Gw heran juga sih kenapa gw diajak dalam proyek ini. Kata Jiwo kalau dia itu butuh seorang copywriter yang bisa ngasih kreatif rasional terhadap semua produk. Karena emang itu kemampuan yang dipunya seorang copywriter dalam keahliannya merangkai kata demi kata sesuai dengan yang dibutuhkan.

Sekarang gw ngerasa kalau gw itu harus bisa melihat semua kesempatan di depan. Kalau hasil diskusi gw dengan mas Do adalah kesempatan itu jangan ditunggu, tapi diciptakan. Ya gw setuju banget. Intinya sekarang yang gw lakukan adalah melakukan semua hal yang tentunya berguna dan positif buat gw. Bukan melakukan hal yang menegatifkan gw sendiri, seperti diam tanpa melakukan apa-apa.

Gw emang gak tau apakah kelanggengan gw ini bertahan lama ama temen-temen baru gw ini. Tapi, yang pasti di saat gw ngeliat ini sebagai sebuah peluang baru, gw akan ngejalanin semuanya dengan sepositif mungkin. Karena kalau gw cuma ngebantuin setengah-setengah, gwnya gak dapet apa-apa, dan yang gw bantu pun gak bakal dapet apa-apa. Cuma jadi buah simalakama jadinya.

Ragu. Itulah kata yang harus gw hilangkan dari kamus gw sekarang. Entah sih kamus apa yang gw pake, tapi gw tau kalau kata itu ada dan besar di gw, yang bisa gw lakukan adalah cuma berhenti dalam kebimbangan tanpa tak tau ingin melakukan apa ke depannya. Jadinya, gw harus terus berpikir maju ke depan. Semua pandangan positif atau negatif dari orang lain akan gw jadikan sebagai feedback untuk terus mengoreksi gw ke depannya.

Yaa, itulah gw. Manusia yang terus dan terus merangkak demi sebuah proses positif yang mendewasakan dan memberikan banyak pengalaman ke gw. Intinya gw akan menanamkan ke diri gw kalau gw akan terus menatap jauh ke depan dan meraih sejumput demi sejumput cita-cita yang akan gw cari. Dan ingat! Tanpa meninggalkan orang-orang di sekitar gw yang pasti akan ngebesarin gw secara sadar atau tanpa sadar.

Pitching udah, besok agendanya adalah MENCARI KERJA LAGI! Hahhahahaha, jangan bosen ya? Agenda terbesar yang lagi bernaung besar di dalam diri gw adalah itu sekarang. Jadi jangan salahkan gw dong ya. Sebagai newbie gw harus sadar kalau gw masih cetek banget pengelaman, apalagi jam terbang. Yang bisa gw lakukan adalah keinginan untuk menambah dan memperkaya itu dengan terus dan terus berkarya. Kalau kata nyokap gw, "apa aja jalanin, yang penting halal."

Oh iya, bokap gw hari ini berulang tahun yang ke 57. Dan dia sekarang sedang berada di Surabaya dalam misi perjalanan menuju Vietnam. Setelah gw sms ngucapin ulang tahun, bokap gw ngebales, begini isinya,

"Thanks Wan, do not hopeless if we've got any risk in our life. Keep in steady as she goes, ok?"

Wah babeh gw emang paling top dah kalau yang namanya ngajarin gw jadi laki-laki yang harus bisa terus belajar dalam situasi paling sulit sekalipun. Dia itu kiblat gw dalam melaki-lakikan diri gw. Mudah-mudahan gw bisa melebihi dia kelak, ataupun sejajar. Love you and miss you Dad!

Emang pelajaran hidup belakangan ini akan ngebikin gw tambah "besar." Gw harus sanggup ngejalanin semua realitas hidup gw ini yang datang ke gw dalam wujud yang sebenar-benarnya. Tak ada kepalsuan, tak ada kemunafikan, yang ada hanya gw dan diri gw yang begini adanya.

Kalau kata tembang lawas, "Semua terserah padamu, aku begini ADA BAND."

Cintai diri dan hidup yang aku jalani.
Semua hal memang tak akan pernah sama.
Walau kamu meninggalkan aku.
Atau aku meninggalkan kamu.

Tapi, aku tau kalau aku masih mencarimu.

Sunday, November 8, 2009

Masa Itu Kembali Lagi!

Ngomong-ngomong tentang hidup gw, yang pasti emang gw sekarang sedang ngejalanin fase baru dalam hidup gw. Menjadi seorang pengangguran lagi ternyata ngasih gw banyak makna yang harus bisa dirasa sebagai pendewasaan diri. Gw sekali lagi gak akan yang namanya melawan sebuah kata yang sangat sakral adanya, waktu.

Kata itu emang ngebuat gw semakin menyadari betapa lemahnya gw untuk melawan waktu. Mau badan gw segede apa juga yang pasti gw pasti gak akan bisa yang namanya melawan waktu.

Beberapa hari belakangan emang hari gw dihiasi dengan pencarian kerja. Mulai dari bangun pagi, membuka laptop, mencari kesempatan dan lowongan, mendaftar email-email yang bisa gw kirim lamaran, dan mengoptimalkan pencarian gw dengan seluruh tenaga dan jiwa raga yang gw punya, sedaaaaaaaap, hehehehehe. UPS! Pesan sponsor tuh kayanya.

Yang mungkin gw lakukan setiap hari sekarang adalah itu, mencari dan menciptakan peluang. Karena kesempatan itu harus selalu gw ciptakan. Kemaren gw sempet ditelepon sama dua orang yang pernah menjadi klien kantor gw dulu. Entah kenapa kok gw diberikan semangat oleh kedua bapak itu untuk dapat mencari kesempatan lebih jauh lagi. Mulai dari dimintanya CV gw yang mau diteruskan oleh salah satu dari bapak itu, sampai gw ditelepon dan diberikan semangat oleh mereka.

Entah kenapa ketika gw sedang dalam keadaan seperti ini, justru orang-orang di sekeliling gw menjadi semakin mendekat. Semua seperti merapatkan barisan untuk memberikan semangat ke gw. Entah gwnya yang geer apa gak, tapi emang gw ngerasa gitu. Semua seperti memberikan semangat ke gw.

Apakah di sini semakin jelas kenapa gw harusnya tidak pergi meninggalkan mereka? Gw di sini ngerasa banget bukan sebenarnya mereka yang pergi ketika gw masih "terbutakan" kemaren, tapi justru gwnyalah yang pergi sejauh-jauhnya dan membuat benteng sendiri atas "kebenaran" yang gw bikin sendiri.

Masalahnya benteng yang gw buat itu sangat tinggi adanya. Melebihi gedung-gedung pencakar langit. Dan, membentang membuat gw semakin tinggi dengan kebenaran yang gw anggap adalah TUHAN. Sebenarnya gw gak seharusnya begitu, karena sampai kapan pun orang-orang di sekitar gwlah yang membuat gw besar. Kalau gw mau diri gw menjadi besar, maka besarkanlah orang-orang di sekitar gw dulu. Baru lambat laun gw akan menjadi besar dengan sendirinya.

Kenapa gw tega ya ninggalin mereka semua kemaren? Kenapa gw begitu sablengnya ngerasa diri gw yang paling benar tanpa adanya keinginan untuk mendengar dan mencerna? Gw sangat ngerasa semakin kecil setiap hari dalam hidup gw sekarang. Dengan berusaha terus memperbaiki simpul-simpul yang kusut, silaturahmi yang terputus, ketertinggalan yang semakin menjauh dan semua hal yang menurut gw jadi hilang karena diri gw sendiri lakukan.

Gw akan mengumpulkan dan merapikan semua yang berserakan karena ulah gw kemaren. Dengan meniti dan menata semua perasaan gw yakin gw akan bisa merapikannya walau gak semuanya. Semuanya? Siapa tau bisa. Jangan pernah pesimis pokoknya kalau gw belom ngejalaninnya. Dan, jangan buat kesimpulan sendiri kalau gw belum atau masih takut ngejalaninnya. Takut? Itu bukan gw! Gw gak akan takut menghadapi semua realitas hidup di depan gw. Karena gw hidup untuk menghadapinya. Di situ ada masalah, di situ gw harus bisa menyelesaikannya.

Semua kejadian emang pasti membawa makna yang banyak. Gak hanya yang ngebikin gw ngerasa semakin dewasa, tapi juga semua yang ngebuat gw harus bisa mengoreksi diri. Semua kehilangan gw ini adalah sebuah proses penataan sebuah kejadian dalam hidup gw. Entah sesakit apa, semanis apa, tapi gw tau kalau proses ini Tuhan ciptakan untuk gw.

Sekarang menunduk emang jadi agenda tersendiri buat gw. Merunduk dan nunduk untuk tiba saatnya bangkit lagi di hari esok. Jangan pernah bertanya kenapa gw seoptimis ini, atau gw sepesimis ini karena hanya gw yang tau rasanya seperti apa. Tuhan memberikan gw napas untuk gw bisa menyelesaikan semua problema ini dengan cara yang gw pikirkan. Walau hanya dengan kedipan mata, tapi gw yakin bahwa semua masalah itu ada jalan keluarnya. Walaupun jalan keluarnya dengan masalah baru lagi.

Emang dah yang namanya hidup itu gak lepas dari masalah. Yang penting gimana gw untuk terus bijak ngadepinnya. Kalau gw terus ngerasa gak perlu masalah atau lari dari masalah, mendingan akika METONG aja. Jadinya gak bakal ada kan beban hidup yang harus dijalani kan?

Ngomong-ngomong, besok ngapain ya? Besok agenda gw adalah MENCARI KERJA lagi! Hahahahha. Gw jadi rindu fase gw ini. Di saat semua agenda gw jadi banci interview, mengirim lamaran, bahkan sampe nyusruk-nyusruknya gw dengan pasangan gw waktu setahun kemaren, gw akan mengulangnya kayanya. Soalnya ketika fase blog gw mencari kerja banyak yang bilang bagus. Cuma bedanya gw sekarang jomblo, jadinya cerita sekitar percintaan gak gw masupin deh kayaknya, hehehehhe.

Intinya mah doain gw ya. Pokoknya kepada seluruh pembaca setia blog gw yang gak bagus ini, gw mohon doa restu untuk dapat bertahan dalam fase yang dibilang enak ya memang enak, dibilang asik ya memang asik (kaya lirik salah satu lagu house music yang kerap diputar di angkot menjelang dini hari, hehehe). Pokoknya kalau gw keterima kerja lagi, gw janji akan terus memperkaya "rumah" gw yang buluk ini dengan pemikiran-pemikiran gak penting, tapi sayang untuk dilewatkan. Huehuehuehuehue.

Ikhwan Aryandi setahun yang lalu seperti kembali lagi. Jangan pernah berhenti untuk sayang ama gw ya! Gw akan terima dengan bentuk APA PUN!

Gw rindu masa itu.
Masa pencarian pekerjaan dan lika-liku dengan pasangan saat itu.
Di saat orang menganggap gw saat itu adalah gw yang sebenarnya.
Dan sekarang gw ada dan kembali di masa indah itu.
Masa gw mencari.
Walau tanpa pasangan.

Friday, November 6, 2009

Titik Balik

Titik balik sebenarnya hanya label.
Yang penting bagaimana menjadikannya refleksi ke dalam diri.
Membuat dan membikin semua kejadian selalu memberikan pelajaran.

Di situ aku kan merasa aku adalah Ikhwan Aryandi.

Gw hari ini semakin berasa nunduk banget. Entah kenapa yang udah gw lakuin dan laluin itu semuanya adalah kesalahan. Entah gw ngerasanya gimana, tapi gw sangat ngerasa kurang atas apa yang sudah gw jalanin. Gw sudah kehilangan semuanya.

Dari kemaren yang gw lakukan adalah mencoba "membagi" semua hal yang telah gw laluin. Hampir dari semua yang gw ceritain seperti "menyerang" gw dan menyatakan kalau gw yang salah. Tapi, apakah gw sesalah itu ya?

Gw ngerasa udah ngorbanin semua kebahagiaan yang sesungguhnya mendukung keberadaan gw sebagai pribadi yang masih belajar. Gw kehilangan kerja, gw kehilangan dia, gw kehilangan mereka, dan gw mencoba memahami segala hal yang tertutup ketika gw masih bertarung ke Pulo gadung. Gw seperti kehilangan semuanya. Gw seperti menutup mata kemaren. Gw gak seperti Ikhwan Aryandi yang gw harapkan.

Semua masukan dari orang. Semangat dari para sahabat, dukungan dari saudara dan keluarga, tentunya akan ngebikin gw semakin kuat untuk ngejalanin semua hal dengan lebih baik. Gw gak tau bisa ngebales apa ke mereka, yang pasti gw akan terus berusaha untuk jadi lebih baik. Gw berjanji akan terus memperbaiki diri.

Gw jadi terpikir ke orang-orang yang telah gw kecewakan, "apakah gw masih sanggup masuk lagi ke kehidupan kalian dan memperbaiki semua kesalahan yang udah gw perbuat?" Gw gak tau bisa apa gak, karena kalau orang itu masih belum bisa memberikan dirinya kembali ke gw akan agak sulit untuk gw "masuk" kembali. Tapi, apakah ngebikin gw jadi pesimis? No way! Seorang Ikhwan Aryandi gak akan pernah lari dari tanggung jawab kalau emang udah ngelakuin sebuah kesalahan.

Gw yakin dengan berjalannya waktu, orang-orang yang gw kecewakan kemaren akan kembali "berdamai" dengan gw. Entah bagaimana caranya, entah apa dan kapan, dan entah bisa apa gak. Yang pasti dengan berjalannya waktu tentunya gw akan ngerasain kalau emang waktu itu sosok yang sangat bernilai.

Seharian gw mikir, seharian gw merenung, seharian pula gw ngerasa kalau diri gw semakin "kecil." Gw juga gak tau kenapa orang kaya gw gini masih aja disemangatin. Padahal gw udah bikin kecewa semuanya. Khususnya kepada sahabat gw, mas Do, yang sampai detik tadi masih nyemangatin gw untuk selalu nulis. Kalau emang gw gak tau apa yang harus gw lakukan, mendigan nulis kata dia. Tenang brader, gw akan mencoba terus berkarya di antara "kemandulan" gw sekarang. Gw akan ngebuat apa pun itu walau hanya dengan bentuk rangkaian kata. Dan, media paling gak penting tentunya, blog.

Sampai sejauh mana mata gw memandang, di situlah gw mengerti kalau yang sedang gw kejar ini adalah sebuah makna dari "kebahagiaan." Kebahagiaan gak selalu dapat dilalui dengan proses yang membahagiakan juga kan? Yang pasti di ujung waktu gw masih bisa ngerasain kalau gw sedang mengejarnya. Mengejar kebahagiaan.

Sekarang yang bisa gw lakuin adalah melakukan "pembenahan." Baik pembenahan diri, pembenahan hubungan gw dengan orang lain, dan pembenahan di semua hal yang menurut gw penting. Karena apa? Gw sendiri gak boleh terpuruk ke dalam lubang hitam yang gw bikin sendiri. Gw harus meyakini kalau apa yang terjadi dengan gw sekarang adalah karena diri gw sendiri. Seperti kata Kavina, STOP MENYALAHKAN ORANG LAIN!

Gw harus menyadari kalau yang gw lakukan ini murni kesalahan diri gw sendiri. Gimana menyikapinya? Pertama sih tanggung semua resiko, kedua mencoba memperbaiki diri dalam menghadapi masalah itu, ketiga hadapi masalah itu dengan dewasa dan bijak. Kalau bagian proses ini gw jabarkan di setiap masalah, gw yakin gw akan lebih bisa mendengarkan dan mencerna omongan orang lain. Dan, gw bisa meminimalisasi kekecewaan orang terhadap tindakan gw.

Sejauh ini gw cuma bisa ngerasa kalau diri gwlah yang paling benar. Gw adalah kebenaran. Kasarnya gitu. Tapi, sekarang gw ngerasa kalau yang gw lakuin ini gak benar. Jadinya sekarang jadi nyusruk sendiri kan? Akibat diri gw sendirilah. Jangan pernah menyalahkan orang lain kalau diri gw sendiri belum benar. Itu aja sih inti dari semua yang gw alami ini. Sesampainya gw di garis finis, mungkin gw akan menyadari kalau gw itu aset yang sangat berharga. Melihat berapa orang yang marah sama gw sekarang ketika gw mencoba "berbagi."

Marah itu bentuk kasih sayang juga lho. Gw yakin kalau orang masih mau marah ke gw, tandanya dia masih mau sayang sama gw. Justru gw beranggapan marah itu adalah pujian terindah buat gw. Di saat marah itu biasanya semua unek-unek keluar dengan lancarnya. Seperti kata Mimin, keran aer lagi bocor sebocor-bocornya nih, hehehe. Emang sih kalau analogi dia berbeda, yang dia maksud itu mungkin keuangan. Karena emang dia sedang menyiapkan perhelatan sakral.

Kalau orang udah apatis ama gw, itu justru yang gw takutin. Karena kalau udah apatis yang ada hanya gw "pernah" mengenalnya. Tanpa ada keinginan untuk menjalin silaturahmi yang baik, mencoba memahami lebih jauh, atau memarahi gw. Gw takut ketika orang di sekitar gw sampai pada fase ini ke gw. Semua celah untuk saling memberikan kasih sayang kayanya udah gak ada. Yang ada tadi itu, cuma "pernah" mengenalnya.

Kalau emang orang apatis karena kesalahan dari gw, maka gw yang harus mengembalikan mereka masuk lagi ke kehidupan gw. Gak ada kata lain, dan itu HARGA MATI! Kesalahan gw yang mengakibatkan orang apatis akan membuat gw sendiri akan selalu dihantui dengan rasa bersalah yang mendalam. Melihat gw gak mau, menegur gw gak mau, gimana mau marah atau noyor gw?

Sekali lagi, STOP MENYALAHKAN ORANG LAIN!

Gw harus mulai mengubah diri. Gw harus bisa mendengarkan orang lain, gw harus bisa MENCERNA omongan orang lain, gw harus bisa menyadari semua keterpurukan gw sekarang ya karena kesalahan yang gw sendiri perbuat.

Entah sekarang ini titik balik atau bukan, yang pasti dengan keberprosesan gw ini gw yakin kalau gw masih BELUM ada apa-apanya. Yang gw lakukan adalah masih kesalahan anak ingusan yang gak tau apa-apa. Walaupun gw sebenarnya gak suka yang namanya DIAM, tapi gw akan berbicara sesuai dengan porsi masalah yang gw hadapi. Walaupun gw sebenarnya orang yang kadang senang membuat onar, tapi gw harus bisa menanggung semua resiko atas apa yang gw perbuat.

Sampai kapan? Sampai MATI!

Gw adalah Ikhwan Aryandi yang selama ini DIKENAL! Bukan orang lain!